![]() |
| Misa di Kotabumi, 14 Jun 2026 |
Menjadi Pekerja di Kebun Tuhan: Refleksi Misa Hari Minggu 14 Feb 2026 di Gereja Kabar Gembira Kotabumi
Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 06.40 WIB ketika roda kendaraan kami memasuki halaman Gereja Kabar Gembira, Kotabumi. Meskipun suasana sekitar gereja sudah mulai ramai oleh umat yang berdatangan, kami beruntung masih mendapatkan tempat parkir yang nyaman. Sebagai pengalaman pertama kalinya mengikuti perayaan Ekaristi di gereja ini, sebuah kehangatan langsung menyambut kami tepat di halaman luar. Sapaan ramah dari seorang Ibu bernama Bunda Endang—yang ternyata adalah kenalan dari Maya, anak Pak Tambunan tempat kami menginap—seketika mencairkan suasana asing dan membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar umat Allah.
![]() |
| Gereja Kabar Gembira w Michael |
Tepat pukul 07.00 WIB, Misa Kudus Hari Minggu Biasa XI dimulai. Perayaan Ekaristi pagi ini dipimpin oleh Romo FX Hendri Firmanto. Sejak awal memimpin ibadah hingga naik ke atas mimbar, Romo Hendri membawa impresi yang mendalam melalui cara bicaranya. Beliau berbicara dengan tempo yang cenderung lambat, namun setiap untaian kata keluar dengan artikulasi yang sangat jelas, membuat umat yang hadir dapat menyerap setiap pesan liturgi dengan penuh khidmat.
Dalam khotbahnya, Romo Hendri mengupas tuntas rahasia penyerahan diri melalui tiga poin penting yang selaras dengan amanat Bacaan Liturgi Ekaristi hari ini (Keluaran 19:2-6a dan Injil Matius 9:36–10:8):
1. Sebuah Rahasia Pilihan
Romo Hendri mengawali khotbah dengan menekankan bahwa bacaan suci hari ini esensinya berbicara mengenai "pilihan". Mulai dari bacaan pertama, di mana bangsa Israel dipilih oleh Allah di gurun Sinai untuk menjadi harta kesayangan-Nya, menjadi kerajaan imam, dan bangsa yang kudus. Pilihan yang sama ini pula yang kemudian diteruskan oleh Yesus Kristus ketika Ia memanggil dan memilih kedua belas murid-Nya dari berbagai latar belakang untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.
2. Realitas Ladang dan Pentingnya Doa
Poin kedua yang digarisbawahi oleh beliau adalah kejujuran Yesus sebelum mengutus para murid. Yesus tidak menjanjikan pelayanan yang serba mudah, melainkan membeberkan keadaan yang sebenarnya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." Menghadapi realitas ini, Romo Hendri mengingatkan amanat Kristus agar umat tidak lekas berkecil hati, melainkan datang bersujud dan berdoa kepada Tuhan sang pemilik kebun—yaitu Dialah pemilik bumi beserta segala isinya—agar Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
3. Diutus Melalui Panggilan Hidup Masing-Masing
Sebagai penutup refleksi, Romo Hendri mengajak seluruh umat untuk menyadari identitas diri. Kita semua adalah umat pilihan Tuhan zaman sekuler ini. Kita telah menerima kasih dan rahmat-Nya secara cuma-cuma, maka kita pun diutus melangkah keluar melalui panggilan hidup kita masing-masing (baik sebagai orang tua, pekerja, anak, maupun pelayan jemaat) untuk menjadi "pekerja tuaian". Tugas kita adalah melakukan apa saja yang berkenan di hadapan Tuhan serta senantiasa menyatakan kemuliaan-Nya di tengah dunia. Beliau menutup khotbahnya dengan berkat rohani yang meneguhkan, "Tuhan memberkati."
![]() |
| Berkat Anak |
Melalui khotbah yang dibawakan secara tenang dan lugas tersebut, pesan Injil hari ini terasa begitu hidup. Umat diajak pulang tidak hanya membawa kehangatan komuni, melainkan sebuah misi konkret untuk berani menjadi pekerja di ladang Tuhan yang luas.
Seusai perayaan Misa yang agung tersebut, kehangatan persaudaraan kembali terasa. Kami sempat bersalaman dan bertukar sapa sejenak dengan Bunda Endang, Frater yang bertugas, serta beberapa umat setempat. Sebelum melangkah meninggalkan kompleks gereja, saya dan Michael menyempatkan diri mengabadikan momen berharga ini dengan berfoto bersama di depan gedung Gereja Kabar Gembira Kotabumi—sebuah kenangan indah dari sebuah ziarah iman hari Minggu yang penuh berkat.
Dr. Manuntun Sitinjak
#misa
#katolik
#kotabumi
#homili
#renungan




Tidak ada komentar:
Posting Komentar