Jumat, 02 Oktober 2026

GOD SENDS HIS ANGELS TO GUARD US

Misa di Tigalingga Ming 27092026



TODAY’S REFLECTION ON THE WORD OF GOD: GOD SENDS HIS ANGELS TO GUARD US

Friday, October 2, 2026
Memorial of the Holy Guardian Angels

Readings: Exodus 23:20–23a • Psalm 91 • Matthew 18:1–5, 10

Today’s Word of God reminds us of a comforting truth: we never walk alone. God watches over us and accompanies every step of our lives.

In the first reading, God says, “See, I am sending an angel before you, to guard you on the way.” God knows that life’s journey is not always easy. There are dangers, uncertainties, challenges, and even things we cannot see. Yet God provides His protection.

Psalm 91 strengthens this promise: “For he commands his angels with regard to you, to guard you wherever you go. With their hands they shall support you.” (Psalm 91:11–12)

How beautiful it is to know that God’s protection accompanies us. This does not mean that we will never face difficulties, but it means that in every situation, God remains present and watches over us according to His will.

In the Gospel, Jesus also reminds us not to despise the little ones, because their angels always look upon the face of the Father in heaven.

Today, let us live with faith rather than fear. In our journeys, work, family life, and every decision we make, let us remember: God walks with us and sends His angels to guard us.

Prayer: Lord, thank You for Your presence and protection. Send Your angels to guard our steps, our families, our journeys, and our entire lives. Teach us to trust You always. Amen.

Dr. Manuntun Sitinjak


TUHAN MENGUTUS MALAIKAT-NYA MENJAGA KITA

Gua Maria Tigalingga 27092026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: TUHAN MENGUTUS MALAIKAT-NYA MENJAGA KITA

Jumat, 2 Oktober 2026
Peringatan Para Malaikat Pelindung

Bacaan: Keluaran 23:20–23a • Mazmur 91 • Matius 18:1–5, 10

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan satu kebenaran yang meneguhkan: kita tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan menjaga dan menyertai setiap langkah hidup kita.

Dalam bacaan pertama Tuhan berfirman, “Sesungguhnya, Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu untuk melindungi engkau di jalan.” Tuhan mengetahui perjalanan hidup tidak selalu mudah. Ada bahaya, ketidakpastian, tantangan, bahkan hal-hal yang tidak dapat kita lihat. Namun Tuhan menyediakan perlindungan-Nya.

Mazmur 91 menegaskan janji yang sama: “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya.” (Mzm 91:11–12)

Betapa indahnya mengetahui bahwa perlindungan Tuhan menyertai perjalanan kita. Bukan berarti kita tidak pernah mengalami kesulitan, tetapi kita percaya bahwa di tengah setiap perjalanan, Tuhan tetap hadir dan menjaga kita menurut kehendak-Nya.

Dalam Injil, Yesus juga mengingatkan agar kita tidak meremehkan mereka yang kecil, sebab malaikat mereka selalu memandang wajah Bapa di surga.

Hari ini mari menjalani hidup dengan iman, bukan ketakutan. Dalam perjalanan, pekerjaan, keluarga, maupun setiap keputusan, percayalah: Tuhan berjalan bersama kita dan mengutus malaikat-Nya untuk menjaga kita.

Doa: Tuhan, terima kasih atas penyertaan dan perlindungan-Mu. Utuslah malaikat-Mu menjaga langkah kami, keluarga kami, perjalanan kami, dan seluruh kehidupan kami. Ajarlah kami selalu percaya kepada-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak


Minggu, 27 September 2026

MISA DI PAROKI BUNDA MARIA DARI KARMEL TIGALINGGA: PERTOBATAN YANG NYATA DALAM TINDAKAN

Tigalingga 27092026

MISA DI PAROKI BUNDA MARIA DARI KARMEL TIGALINGGA: PERTOBATAN YANG NYATA DALAM TINDAKAN

Minggu, 27 September 2026

Pagi ini saya bersama Michael mengikuti Misa Minggu di Paroki Bunda Maria dari Karmel, Tigalingga. Gereja ini sangat dekat dari tempat kami menginap, hanya sekitar tiga menit perjalanan. Misa dimulai pukul 08.00 WIB. Ketika kami masuk, lagu pembuka sudah dinyanyikan.

Bangunan gereja tampak sangat megah dan indah. Umat yang hadir ramai dan mengikuti perayaan Ekaristi dengan penuh semangat. Saya dan Michael mendapat tempat duduk di bangku sayap kiri, agak ke tengah.

Khotbah Pastor pagi ini mengingatkan kami tentang pertobatan yang nyata dalam kehidupan. Tidak cukup hanya berdoa, melakukan devosi, atau mengatakan “ya” kepada Tuhan dengan mulut. Pertobatan harus diwujudkan dalam tindakan.

Pesan ini sangat sesuai dengan Injil hari ini tentang seorang ayah yang meminta kedua anaknya pergi bekerja di kebun anggur. Anak pertama menjawab “ya”, tetapi ternyata ia tidak pergi. Anak kedua mula-mula berkata “tidak”, tetapi kemudian ia menyesal, berubah pikiran, dan pergi bekerja di kebun.

Pesannya sangat jelas: bukan sekadar apa yang kita katakan kepada Tuhan, tetapi apakah kita sungguh melakukan kehendak-Nya. Seseorang dapat rajin berdoa dan melakukan berbagai devosi, tetapi pertobatan sejati harus terlihat dalam perubahan hidup, ketaatan, kasih, dan perbuatan nyata.

Bacaan pertama dari Nabi Yehezkiel juga menegaskan bahwa orang yang berbalik dari kesalahannya dan kemudian melakukan yang benar akan memperoleh kehidupan. Sementara Rasul Paulus mengajak kita memiliki sikap Kristus: rendah hati, tidak mencari kepentingan sendiri, serta taat kepada Allah.

Pesan bagi saya sangat kuat: iman bukan hanya apa yang kita ucapkan dan doakan, tetapi apa yang kita lakukan. Doa dan devosi seharusnya menghasilkan pertobatan, ketaatan, kasih, dan perbuatan nyata.

Seusai Misa, Pak Aritonang mendekati kami dan memperkenalkan diri. Saya juga berkenalan dengan istrinya, Ibu br. Sinulingga, yang sebelumnya bertugas membacakan pengumuman. Kami kemudian berfoto bersama.

Saya melanjutkan berbincang dengan Pak Aritonang. Beliau mengajak saya melihat bangunan pastoran dan meninjau aula paroki yang ternyata berada di bawah bangunan gereja. Di aula kami bertemu Pak Tarigan yang sedang mempersiapkan kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang akan dilaksanakan pukul 14.00 WIB.

Setelah itu saya menuju Gua Maria di depan gereja untuk berdoa. Seusai berdoa, saya meminta bantuan seorang gadis remaja untuk mengambil foto, dan ia dengan senang hati membantu.

Tidak lama kemudian Ibu Sinulingga datang bersama seorang remaja putri bernama Novita Wulan br. Hasugian, pengurus BIR (Bina Iman Remaja). Mereka menceritakan bahwa BIR sedang mengadakan kegiatan dan membutuhkan dukungan dana. Saya pun mengambil tas tangan dan dengan sukacita memberikan donasi untuk kegiatan mereka.

Ibu Sinulingga kemudian memanggil beberapa ibu dan bapak untuk berkenalan dan bersalaman dengan saya di depan Gua Maria.

Di tengah perkenalan itu, seorang ibu berkata, “Sepertinya saya kenal Bapak. Bapak pernah mampir ke rumah saya bersama seorang ibu dari Padang.”

Saya mencoba mengingat kembali. Ternyata benar! Sekitar tujuh tahun yang lalu, kami pernah bertemu dan saya bahkan pernah makan mie gomak di rumah beliau.

Kami pun berfoto bersama. Saya meminta nomor teleponnya, dan ketika saya periksa ternyata nomor tersebut sudah tersimpan di kontak saya dengan nama Edita Tarigan.

Saya sungguh bersyukur.

Sejak sekitar dua bulan lalu ketika kembali berkunjung ke Tigalingga, saya sebenarnya sudah berusaha mencari beliau, tetapi saya sudah lupa alamat rumahnya. Hari ini, tanpa direncanakan, justru Tuhan mempertemukan kami kembali di halaman gereja.

Pertemuan itu menjadi penutup yang sangat berkesan dari Misa pagi ini.

Kadang-kadang Tuhan bekerja melalui peristiwa sederhana yang tidak kita rencanakan. Kita datang untuk mengikuti Misa, tetapi Tuhan memberikan lebih banyak: Sabda yang mengingatkan untuk bertobat, kesempatan berbagi dengan kaum muda, perkenalan dengan saudara-saudari baru, dan bahkan mempertemukan kembali persahabatan lama yang sempat hilang.

Terima kasih Tuhan untuk Misa hari ini, untuk setiap perjumpaan, dan untuk cara-Mu yang indah mempertemukan kembali orang-orang dalam perjalanan hidup kami. Semoga doa dan iman kami tidak berhenti pada kata-kata, tetapi sungguh diwujudkan dalam pertobatan, ketaatan, kasih, dan tindakan nyata setiap hari.

Saya pun berpamitan dengan Ibu Edita dan berjanji akan berjumpa kembali sebelum kami meninggalkan Tigalingga.

Dr. Manuntun Sitinjak

MISA MINGGU DI GEREJA SAKRAMEN MAHAKUDUS KISARAN: BERSYUKUR DAN TIDAK MEMBANDINGKAN DIRI

Kisaran 20092026

MISA MINGGU DI GEREJA SAKRAMEN MAHAKUDUS KISARAN: BERSYUKUR DAN TIDAK MEMBANDINGKAN DIRI

Minggu, 20 September 2026

Pagi ini saya bersama Michael mengikuti Misa Minggu di Gereja Sakramen Mahakudus, Kisaran. Misa dimulai pukul 07.30 WIB. Gereja dipenuhi umat, bahkan banyak yang mengikuti Misa dari bagian luar karena tempat duduk di dalam sudah penuh. Saya dan Michael mendapat tempat di bangku sisi kanan bagian tengah.

Ada sukacita tersendiri melihat begitu banyak umat datang untuk beribadah dan bersama-sama mengucap syukur kepada Tuhan.

Khotbah Pastor pagi ini sangat menyentuh, terutama mengenai bersyukur atas setiap berkat yang telah kita terima dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain.

Pesan ini sangat sesuai dengan Injil hari ini tentang para pekerja di kebun anggur. Ada yang mulai bekerja sejak pagi, ada yang datang siang, sore, bahkan menjelang berakhirnya hari. Namun sang pemilik kebun memberikan satu dinar kepada masing-masing pekerja. Mereka yang bekerja sejak pagi kemudian bersungut-sungut karena merasa seharusnya menerima lebih banyak.

Di sinilah kita diingatkan bahwa iri hati sering muncul ketika kita berhenti melihat berkat yang sudah kita terima dan mulai menghitung berkat orang lain.

Tuhan mempunyai cara dan waktu-Nya sendiri dalam memberkati setiap orang. Bagian kita bukan membandingkan, tetapi bersyukur, bekerja dengan setia, dan percaya pada kemurahan Tuhan.

Suasana damai juga terasa ketika tiba saat salam damai. Kami saling bersalaman dengan umat yang duduk di sekitar, menyampaikan damai Kristus satu kepada yang lain.

Terima kasih Tuhan untuk Misa pagi ini. Ajarlah kami untuk selalu bersyukur atas bagian yang Engkau percayakan, tidak iri terhadap berkat orang lain, dan tetap setia bekerja di kebun-Mu dengan sukacita.

Dr. Manuntun Sitinjak

Rabu, 09 September 2026

KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM TUHAN

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM TUHAN

Rabu, 9 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII

Bacaan: 1 Korintus 7:25–31 • Mazmur 45:11–12, 14–15, 16–17 • Lukas 6:20–26

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kembali sumber kebahagiaan sejati dalam hidup.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa dunia dalam bentuknya sekarang sedang berlalu. Segala yang kita miliki, nikmati, perjuangkan, bahkan hal-hal yang sangat kita banggakan, semuanya bersifat sementara. Karena itu, kita boleh bekerja keras, membangun kehidupan, mengejar impian, dan menikmati berkat Tuhan, tetapi jangan sampai hati kita melekat sepenuhnya pada hal-hal duniawi.

Dalam Injil, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia: “Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Yesus juga berbicara tentang mereka yang lapar, menangis, dan ditolak karena Anak Manusia.

Ini bukan berarti kemiskinan atau penderitaan itu sendiri adalah sesuatu yang harus dicari. Pesannya adalah bahwa orang yang sadar akan keterbatasannya dan sungguh bergantung kepada Tuhan justru membuka hatinya bagi Kerajaan Allah.

Sebaliknya, ketika kita merasa cukup karena kekayaan, kenyamanan, keberhasilan, atau pujian, kita bisa perlahan merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini adalah: di manakah saya meletakkan rasa aman dan kebahagiaan saya?

Apakah pada uang, posisi, keberhasilan, penilaian orang lain, atau pada Tuhan?

Segala sesuatu di dunia dapat berubah. Tetapi Tuhan tetap sama.

Maka kebahagiaan sejati bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika di tengah apa pun yang terjadi, kita tetap memiliki Tuhan di dalam hati.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk tidak menggantungkan kebahagiaanku pada hal-hal yang sementara. Berikan aku hati yang selalu bergantung kepada-Mu, bersyukur dalam kelimpahan, tetap percaya dalam kekurangan, dan setia dalam setiap keadaan. Jadilah Engkau sumber sukacita dan kekuatanku. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Selasa, 08 September 2026

BECOMING PART OF GOD’S PLAN

TODAY’S REFLECTION ON THE WORD OF GOD: BECOMING PART OF GOD’S PLAN

Tuesday, September 8, 2026
Feast of the Nativity of the Blessed Virgin Mary

Readings: Micah 5:1–4a • Psalm 13:6ab, 6c • Matthew 1:1–16, 18–23

Today the Church celebrates the Nativity of the Blessed Virgin Mary. Through Mary, we see how God works through human history and fulfills His plan of salvation.

In the first reading, the Prophet Micah foretells that from Bethlehem will come a ruler who will shepherd His people and bring peace. This prophecy is fulfilled in Jesus Christ.

The Gospel presents the genealogy of Jesus and the story of Mary conceiving by the Holy Spirit. The genealogy reminds us that God’s plan unfolds through many generations, through imperfect people, and through a long journey that is not always easy to understand.

Mary became a very important part of that plan. She did not know every detail of the path ahead, but she surrendered herself to the will of God.

Here we learn that God does not always ask us to understand His entire plan; He asks us to trust Him and faithfully do our part.

Sometimes we wonder why certain things happen, why our plans change, or why life does not unfold as we expected. But God sees much farther than we can see.

Today, let us learn from Mary: to trust, to remain humble, and to be ready to be used by God.

Our part may seem small, but when it is lived in obedience, God can make it part of something far greater.

Prayer: Lord, thank You for the example of the Blessed Virgin Mary. Teach me to trust Your plan, to be faithful in every responsibility, and to courageously say yes to Your will. Use my life as part of Your work and make me a blessing to others. Amen.

Dr. Manuntun Sitinjak

MENJADI BAGIAN DARI RENCANA TUHAN

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: MENJADI BAGIAN DARI RENCANA TUHAN

Selasa, 8 September 2026
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Bacaan: Mikha 5:1–4a • Mazmur 13:6ab, 6c • Matius 1:1–16, 18–23

Hari ini Gereja merayakan Kelahiran Santa Perawan Maria. Melalui Maria, kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam sejarah manusia dan menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Dalam bacaan pertama, Nabi Mikha menubuatkan bahwa dari Betlehem akan lahir seorang pemimpin yang akan menggembalakan umat-Nya dan membawa damai. Nubuat ini digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Injil menampilkan silsilah Yesus dan kemudian kisah bagaimana Maria mengandung dari Roh Kudus. Silsilah itu mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan berjalan melalui banyak generasi, melalui orang-orang yang tidak sempurna, melalui perjalanan panjang yang kadang sulit dipahami.

Maria mengambil bagian sangat penting dalam rencana itu. Ia tidak mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya, tetapi ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan.

Di sinilah kita belajar bahwa Tuhan tidak selalu meminta kita memahami seluruh rencana-Nya; Tuhan meminta kita percaya dan setia menjalani bagian kita.

Kadang kita bertanya mengapa sesuatu terjadi, mengapa jalan hidup berubah, atau mengapa rencana kita tidak berjalan seperti yang diharapkan. Namun Tuhan melihat jauh lebih luas daripada yang dapat kita lihat.

Hari ini mari belajar dari Maria: percaya, rendah hati, dan siap dipakai Tuhan.

Mungkin bagian kita tampak kecil, tetapi ketika dilakukan dalam ketaatan, Tuhan dapat menjadikannya bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Doa: Tuhan, terima kasih atas teladan Bunda Maria. Ajarlah aku untuk percaya kepada rencana-Mu, setia dalam setiap tugas, dan berani berkata ya kepada kehendak-Mu. Pakailah hidupku menjadi bagian dari karya-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak