Tampilkan postingan dengan label Misa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2026

MISA DI PAROKI BUNDA MARIA DARI KARMEL TIGALINGGA: PERTOBATAN YANG NYATA DALAM TINDAKAN

Tigalingga 27092026

MISA DI PAROKI BUNDA MARIA DARI KARMEL TIGALINGGA: PERTOBATAN YANG NYATA DALAM TINDAKAN

Minggu, 27 September 2026

Pagi ini saya bersama Michael mengikuti Misa Minggu di Paroki Bunda Maria dari Karmel, Tigalingga. Gereja ini sangat dekat dari tempat kami menginap, hanya sekitar tiga menit perjalanan. Misa dimulai pukul 08.00 WIB. Ketika kami masuk, lagu pembuka sudah dinyanyikan.

Bangunan gereja tampak sangat megah dan indah. Umat yang hadir ramai dan mengikuti perayaan Ekaristi dengan penuh semangat. Saya dan Michael mendapat tempat duduk di bangku sayap kiri, agak ke tengah.

Khotbah Pastor pagi ini mengingatkan kami tentang pertobatan yang nyata dalam kehidupan. Tidak cukup hanya berdoa, melakukan devosi, atau mengatakan “ya” kepada Tuhan dengan mulut. Pertobatan harus diwujudkan dalam tindakan.

Pesan ini sangat sesuai dengan Injil hari ini tentang seorang ayah yang meminta kedua anaknya pergi bekerja di kebun anggur. Anak pertama menjawab “ya”, tetapi ternyata ia tidak pergi. Anak kedua mula-mula berkata “tidak”, tetapi kemudian ia menyesal, berubah pikiran, dan pergi bekerja di kebun.

Pesannya sangat jelas: bukan sekadar apa yang kita katakan kepada Tuhan, tetapi apakah kita sungguh melakukan kehendak-Nya. Seseorang dapat rajin berdoa dan melakukan berbagai devosi, tetapi pertobatan sejati harus terlihat dalam perubahan hidup, ketaatan, kasih, dan perbuatan nyata.

Bacaan pertama dari Nabi Yehezkiel juga menegaskan bahwa orang yang berbalik dari kesalahannya dan kemudian melakukan yang benar akan memperoleh kehidupan. Sementara Rasul Paulus mengajak kita memiliki sikap Kristus: rendah hati, tidak mencari kepentingan sendiri, serta taat kepada Allah.

Pesan bagi saya sangat kuat: iman bukan hanya apa yang kita ucapkan dan doakan, tetapi apa yang kita lakukan. Doa dan devosi seharusnya menghasilkan pertobatan, ketaatan, kasih, dan perbuatan nyata.

Seusai Misa, Pak Aritonang mendekati kami dan memperkenalkan diri. Saya juga berkenalan dengan istrinya, Ibu br. Sinulingga, yang sebelumnya bertugas membacakan pengumuman. Kami kemudian berfoto bersama.

Saya melanjutkan berbincang dengan Pak Aritonang. Beliau mengajak saya melihat bangunan pastoran dan meninjau aula paroki yang ternyata berada di bawah bangunan gereja. Di aula kami bertemu Pak Tarigan yang sedang mempersiapkan kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang akan dilaksanakan pukul 14.00 WIB.

Setelah itu saya menuju Gua Maria di depan gereja untuk berdoa. Seusai berdoa, saya meminta bantuan seorang gadis remaja untuk mengambil foto, dan ia dengan senang hati membantu.

Tidak lama kemudian Ibu Sinulingga datang bersama seorang remaja putri bernama Novita Wulan br. Hasugian, pengurus BIR (Bina Iman Remaja). Mereka menceritakan bahwa BIR sedang mengadakan kegiatan dan membutuhkan dukungan dana. Saya pun mengambil tas tangan dan dengan sukacita memberikan donasi untuk kegiatan mereka.

Ibu Sinulingga kemudian memanggil beberapa ibu dan bapak untuk berkenalan dan bersalaman dengan saya di depan Gua Maria.

Di tengah perkenalan itu, seorang ibu berkata, “Sepertinya saya kenal Bapak. Bapak pernah mampir ke rumah saya bersama seorang ibu dari Padang.”

Saya mencoba mengingat kembali. Ternyata benar! Sekitar tujuh tahun yang lalu, kami pernah bertemu dan saya bahkan pernah makan mie gomak di rumah beliau.

Kami pun berfoto bersama. Saya meminta nomor teleponnya, dan ketika saya periksa ternyata nomor tersebut sudah tersimpan di kontak saya dengan nama Edita Tarigan.

Saya sungguh bersyukur.

Sejak sekitar dua bulan lalu ketika kembali berkunjung ke Tigalingga, saya sebenarnya sudah berusaha mencari beliau, tetapi saya sudah lupa alamat rumahnya. Hari ini, tanpa direncanakan, justru Tuhan mempertemukan kami kembali di halaman gereja.

Pertemuan itu menjadi penutup yang sangat berkesan dari Misa pagi ini.

Kadang-kadang Tuhan bekerja melalui peristiwa sederhana yang tidak kita rencanakan. Kita datang untuk mengikuti Misa, tetapi Tuhan memberikan lebih banyak: Sabda yang mengingatkan untuk bertobat, kesempatan berbagi dengan kaum muda, perkenalan dengan saudara-saudari baru, dan bahkan mempertemukan kembali persahabatan lama yang sempat hilang.

Terima kasih Tuhan untuk Misa hari ini, untuk setiap perjumpaan, dan untuk cara-Mu yang indah mempertemukan kembali orang-orang dalam perjalanan hidup kami. Semoga doa dan iman kami tidak berhenti pada kata-kata, tetapi sungguh diwujudkan dalam pertobatan, ketaatan, kasih, dan tindakan nyata setiap hari.

Saya pun berpamitan dengan Ibu Edita dan berjanji akan berjumpa kembali sebelum kami meninggalkan Tigalingga.

Dr. Manuntun Sitinjak

MISA MINGGU DI GEREJA SAKRAMEN MAHAKUDUS KISARAN: BERSYUKUR DAN TIDAK MEMBANDINGKAN DIRI

Kisaran 20092026

MISA MINGGU DI GEREJA SAKRAMEN MAHAKUDUS KISARAN: BERSYUKUR DAN TIDAK MEMBANDINGKAN DIRI

Minggu, 20 September 2026

Pagi ini saya bersama Michael mengikuti Misa Minggu di Gereja Sakramen Mahakudus, Kisaran. Misa dimulai pukul 07.30 WIB. Gereja dipenuhi umat, bahkan banyak yang mengikuti Misa dari bagian luar karena tempat duduk di dalam sudah penuh. Saya dan Michael mendapat tempat di bangku sisi kanan bagian tengah.

Ada sukacita tersendiri melihat begitu banyak umat datang untuk beribadah dan bersama-sama mengucap syukur kepada Tuhan.

Khotbah Pastor pagi ini sangat menyentuh, terutama mengenai bersyukur atas setiap berkat yang telah kita terima dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain.

Pesan ini sangat sesuai dengan Injil hari ini tentang para pekerja di kebun anggur. Ada yang mulai bekerja sejak pagi, ada yang datang siang, sore, bahkan menjelang berakhirnya hari. Namun sang pemilik kebun memberikan satu dinar kepada masing-masing pekerja. Mereka yang bekerja sejak pagi kemudian bersungut-sungut karena merasa seharusnya menerima lebih banyak.

Di sinilah kita diingatkan bahwa iri hati sering muncul ketika kita berhenti melihat berkat yang sudah kita terima dan mulai menghitung berkat orang lain.

Tuhan mempunyai cara dan waktu-Nya sendiri dalam memberkati setiap orang. Bagian kita bukan membandingkan, tetapi bersyukur, bekerja dengan setia, dan percaya pada kemurahan Tuhan.

Suasana damai juga terasa ketika tiba saat salam damai. Kami saling bersalaman dengan umat yang duduk di sekitar, menyampaikan damai Kristus satu kepada yang lain.

Terima kasih Tuhan untuk Misa pagi ini. Ajarlah kami untuk selalu bersyukur atas bagian yang Engkau percayakan, tidak iri terhadap berkat orang lain, dan tetap setia bekerja di kebun-Mu dengan sukacita.

Dr. Manuntun Sitinjak

Minggu, 14 Juni 2026

Menjadi Pekerja di Kebun Tuhan

Misa di Kotabumi, 14 Jun 2026

Menjadi Pekerja di Kebun Tuhan: Refleksi Misa Hari Minggu 14 Feb 2026 di Gereja Kabar Gembira Kotabumi

Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 06.40 WIB ketika roda kendaraan kami memasuki halaman Gereja Kabar Gembira, Kotabumi. Meskipun suasana sekitar gereja sudah mulai ramai oleh umat yang berdatangan, kami beruntung masih mendapatkan tempat parkir yang nyaman. Sebagai pengalaman pertama kalinya mengikuti perayaan Ekaristi di gereja ini, sebuah kehangatan langsung menyambut kami tepat di halaman luar. Sapaan ramah dari seorang Ibu bernama Bunda Endang—yang ternyata adalah kenalan dari Maya, anak Pak Tambunan tempat kami menginap—seketika mencairkan suasana asing dan membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar umat Allah.
Gereja Kabar Gembira w Michael

Tepat pukul 07.00 WIB, Misa Kudus Hari Minggu Biasa XI dimulai. Perayaan Ekaristi pagi ini dipimpin oleh Romo FX Hendri Firmanto. Sejak awal memimpin ibadah hingga naik ke atas mimbar, Romo Hendri membawa impresi yang mendalam melalui cara bicaranya. Beliau berbicara dengan tempo yang cenderung lambat, namun setiap untaian kata keluar dengan artikulasi yang sangat jelas, membuat umat yang hadir dapat menyerap setiap pesan liturgi dengan penuh khidmat.

Dalam khotbahnya, Romo Hendri mengupas tuntas rahasia penyerahan diri melalui tiga poin penting yang selaras dengan amanat Bacaan Liturgi Ekaristi hari ini (Keluaran 19:2-6a dan Injil Matius 9:36–10:8):

1. Sebuah Rahasia Pilihan
Romo Hendri mengawali khotbah dengan menekankan bahwa bacaan suci hari ini esensinya berbicara mengenai "pilihan". Mulai dari bacaan pertama, di mana bangsa Israel dipilih oleh Allah di gurun Sinai untuk menjadi harta kesayangan-Nya, menjadi kerajaan imam, dan bangsa yang kudus. Pilihan yang sama ini pula yang kemudian diteruskan oleh Yesus Kristus ketika Ia memanggil dan memilih kedua belas murid-Nya dari berbagai latar belakang untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

2. Realitas Ladang dan Pentingnya Doa
Poin kedua yang digarisbawahi oleh beliau adalah kejujuran Yesus sebelum mengutus para murid. Yesus tidak menjanjikan pelayanan yang serba mudah, melainkan membeberkan keadaan yang sebenarnya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." Menghadapi realitas ini, Romo Hendri mengingatkan amanat Kristus agar umat tidak lekas berkecil hati, melainkan datang bersujud dan berdoa kepada Tuhan sang pemilik kebun—yaitu Dialah pemilik bumi beserta segala isinya—agar Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

3. Diutus Melalui Panggilan Hidup Masing-Masing
Sebagai penutup refleksi, Romo Hendri mengajak seluruh umat untuk menyadari identitas diri. Kita semua adalah umat pilihan Tuhan zaman sekuler ini. Kita telah menerima kasih dan rahmat-Nya secara cuma-cuma, maka kita pun diutus melangkah keluar melalui panggilan hidup kita masing-masing (baik sebagai orang tua, pekerja, anak, maupun pelayan jemaat) untuk menjadi "pekerja tuaian". Tugas kita adalah melakukan apa saja yang berkenan di hadapan Tuhan serta senantiasa menyatakan kemuliaan-Nya di tengah dunia. Beliau menutup khotbahnya dengan berkat rohani yang meneguhkan, "Tuhan memberkati."

Berkat Anak

Melalui khotbah yang dibawakan secara tenang dan lugas tersebut, pesan Injil hari ini terasa begitu hidup. Umat diajak pulang tidak hanya membawa kehangatan komuni, melainkan sebuah misi konkret untuk berani menjadi pekerja di ladang Tuhan yang luas.

Seusai perayaan Misa yang agung tersebut, kehangatan persaudaraan kembali terasa. Kami sempat bersalaman dan bertukar sapa sejenak dengan Bunda Endang, Frater yang bertugas, serta beberapa umat setempat. Sebelum melangkah meninggalkan kompleks gereja, saya dan Michael menyempatkan diri mengabadikan momen berharga ini dengan berfoto bersama di depan gedung Gereja Kabar Gembira Kotabumi—sebuah kenangan indah dari sebuah ziarah iman hari Minggu yang penuh berkat.

Usai Misa, 14 Juni 2026, KOTABUMI

Kotabumi, Minggu 14 Juni 2026,

Dr. Manuntun Sitinjak
#misa
#katolik
#kotabumi
#homili
#renungan



Minggu, 24 Mei 2026

VENI CREATOR SPIRITUS

Misa HR Pentakosta 24.05.2026

RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA DAN HOMILI ROMO YULIUS EKO: VENI CREATOR SPIRITUS

Minggu, 24 Mei 2026

📖 Bacaan Hari Ini: Kis 2:1–11 | Mzm 104 | 1Kor 12:3b–7,12–13 | Yoh 20:19–23

Hari Raya Pentakosta adalah hari turunnya Roh Kudus atas para rasul. Hari ini juga sering disebut sebagai ulang tahun Gereja, karena sejak saat itu para murid mulai keluar dari ketakutan dan mewartakan kabar baik kepada segala bangsa. Dalam Bacaan Pertama, orang-orang dari berbagai bangsa mendengar karya agung Allah dalam bahasa mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus hadir untuk mempersatukan, menghidupkan, dan mengutus Gereja ke seluruh dunia.

Dalam khotbah hari ini, Romo Yulius Eko mengingatkan kita pada lagu indah Gereja: Veni Creator Spiritus — datanglah, ya Roh Pencipta. Lagu ini menjadi doa yang mengajak kita membuka hati bagi karya Roh Kudus. Roh Kudus adalah anugerah Allah yang memperbarui hati manusia. Ia mengubah ketakutan menjadi keberanian, kebingungan menjadi pengertian, dan keterpisahan menjadi persatuan.

Injil hari ini memberi tiga pesan utama sebagai anugerah dari Yesus. Pertama, “Damai sejahtera bagi kamu.” Yesus hadir di tengah para murid yang takut dan memberi mereka damai. Kedua, “Kamu diutus.” Damai yang diterima bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk dibawa kepada dunia. Ketiga, “Terimalah Roh Kudus.” Yesus memberi Roh Kudus agar para murid mampu menjalankan perutusan dengan kekuatan dari Allah, bukan hanya dengan kemampuan manusia.

Pentakosta mengajak kita membuka hati bagi Roh Kudus. Kita dipanggil menjadi Gereja yang hidup, berani bersaksi, membawa damai, dan menjadi saluran kasih Allah di tengah keluarga, pekerjaan, komunitas, dan masyarakat. Semoga Roh Kudus terus menyalakan api iman dalam hati kita.

Doa:
Datanglah, ya Roh Kudus. Penuhilah hati kami dengan damai, keberanian, kasih, dan semangat untuk diutus menjadi saksi Kristus. Amin.

Tuhan memberkati kita semua ❤️
Manuntun Sitinjak

Senin, 23 Maret 2026

Misa di Karanganyar, Kebumen

Gereja St Yoseph Pekerja, Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah 

Misa di Karanganyar, Kebumen

PERCAYA DAN HIDUP, HIDUP DAN PERCAYA

Hari Minggu, 22 Maret, saya dan keluarga ada di Kebumen karena mudik Lebaran.

Pagi ini pukul 06.00 kami sudah berangkat dari Dukuh Kesongging, Candiwulan, menuju Gereja Paroki St. Yoseph Pekerja, karena misa akan dimulai pukul 07.00 pagi.

Sesampainya di depan gerbang gereja, dekat Stasiun KAKA (Kereta Api Karanganyar), Rafael turun dari mobil untuk membuka pintu gerbang, karena memang belum dibuka. Kami masuk, masih sepi. Namun beberapa menit kemudian umat mulai berdatangan dan kami pun bersalaman dengan umat setempat.

Adik-adik kami, Hotlam dan Lambok beserta keluarga, juga ikut ke gereja. Mereka menyusul di belakang kami dengan mobil tersendiri bersama Michael.

Pukul 07.00 tepat misa dimulai dan dipimpin oleh Romo Paroki bersama tiga konselebran. Gereja terisi sekitar dua pertiga, namun umat tampak antusias, terutama koor dan para novis yang sedang belajar di Karanganyar.

Setelah bacaan Injil, homili dibawakan oleh salah satu konselebran, seorang frater asal Manado. Beliau membuka dengan salam dalam bahasa Jawa halus. Pesan renungan berpusat pada Injil Yohanes 11:1–45, dengan tema Minggu ke-5 Prapaskah yaitu sengsara.

Pesan utama yang saya tangkap adalah sabda Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati; dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.” (Yoh 11:25–26)

Marta, saudari Lazarus, percaya, dan itulah yang menjadi dasar Yesus membangkitkan Lazarus, walaupun ia sudah empat hari di dalam kubur.

Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan Yesus kepada Marta: “Percayakah aku akan hal ini?”

Mari kita memohon anugerah iman dari Tuhan untuk percaya. Sebab dengan percaya kepada Yesus, kita hidup dan memperoleh hidup kekal. Seperti Bapak kita Abraham yang menjadi bapa orang beriman karena ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, marilah kita meneladaninya.

Doa: Yesus Tuhanku, berilah aku anugerah untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu, sebab itulah yang membuatku bangkit dan hidup. Yesus, aku percaya kepada-Mu. Engkaulah andalanku. Amin.

Kebumen, 23 Maret 2026

Manuntun Sitinjak

Minggu, 07 Maret 2021

PENYEMBUHAN AJAIB SAAT MISA ONLINE

Terimakasih kepada Tuhan Yesus, pagi ini saya mengalami kesembuhan ajaib sementara mengikuti Perayaan Misa Kudus online dari Katedral Semarang yang dipimpin oleh Bapak Mgr Robertus Rubiyatmoko, dari kamar saya di Hotel Wisata Baru kota Serang. Banten, pukul 08.00 sampai selesai.

Dari kemarin saya sangat menderita, ada semacam bisul besar di bagian paha atas belakang ke arah pinggul, tepat di tumpuan duduk sebelah kanan, berdenyut, panas,  yang membuat saya demam, dan dudukpun serba tidak nyaman.

Dalam ritus persembahan, saya menyampaikan permohonan dalam hati, agar saya diberi kesembuhan dan memusatkan perhatian pada bagian yang sakit.

Ajaib, secara tiba-tiba saya mengalami kesembuhan, bahkan sewaktu misa masih berlangsung. Terimakasih Tuhan Engkau sungguh nyata. Terpujilah Namanu selama-lamanya.

Bapa kami...

Salam Maria... 3kali

Kemuliaan...

Minggu, 23 September 2018

SANGAT BAHAGIA MISA DI KATEDRAL ST THERESIA PADANG

Akhirnya kesampaian juga misa di gereja Katedral St Theresia kota Padang. Walau sudah satu tahun lebih bolak balik Jakarta Sumbar, baru hari ini saya punya kesempatan Misa di gereja ini.

Kesan pertama, gereja ini cukup besar, lebih besar dari Katedral Bogor, dan lingkungan keuskupannya lebih asri, lengkap dengan taman doa, dan gua Maria.

Orang-orangnya pun ramah, saya kenalan dengan beberapa orang umat, ternyata sebagian ada juga yang dari Jakarta, bahkan ada yang dari Hongkong.

Hari ini bertepatan pula memasuki masa ulang tahun ke 86, paroki Katedral St Theresia, Padang. Umat sangat antusias, dalam menyambut hari penting ini, dan mengadakan Novena St Theresia dan hari ini adalah hari kedua.

Tuhan menyertai dan memberkati umatNya di Padang dan seluruh Sumatera Barat dan semakin berkembang dan kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir dan makin nyata. Amin