Tampilkan postingan dengan label Pesan Injil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Injil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2026

KERAJAAN ALLAH DIMULAI DARI HAL-HAL KECIL

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: KERAJAAN ALLAH DIMULAI DARI HAL-HAL KECIL

Selasa, 27 Oktober 2026

Bacaan: Efesus 5:21–33 • Mazmur 128:1–2, 3, 4–5 • Lukas 13:18–21

Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan Kerajaan Allah seperti biji sesawi dan ragi. Keduanya kecil dan sederhana, tetapi memiliki daya untuk bertumbuh dan mengubah.

Biji sesawi yang kecil dapat berkembang menjadi pohon tempat burung-burung bernaung. Ragi yang sedikit dapat membuat seluruh adonan mengembang. Pesannya jelas: Kerajaan Allah sering kali dimulai dari hal-hal kecil.

Kebaikan sederhana, perkataan yang menguatkan, pengampunan, kejujuran, doa yang setia, perhatian kepada keluarga, dan pelayanan yang dilakukan dengan tulus mungkin tampak kecil. Namun ketika dilakukan terus-menerus, semuanya dapat membawa perubahan besar.

Sering kali kita ingin melihat hasil yang cepat dan besar. Padahal Tuhan bekerja melalui proses. Ia menumbuhkan sesuatu sedikit demi sedikit, sering kali tanpa kita sadari.

Karena itu, jangan meremehkan langkah kecil yang baik hari ini. Jangan menunggu kesempatan besar untuk menjadi berkat.

Apa yang kecil di tangan kita dapat menjadi besar ketika Tuhan yang menumbuhkannya.

Doa: Tuhan, ajarlah aku setia melakukan kebaikan dalam hal-hal kecil. Berkatilah setiap langkah sederhana yang kulakukan, agar melalui hidupku Kerajaan-Mu semakin nyata bagi orang lain. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Senin, 19 Oktober 2026

HIDUP LEBIH BERHARGA DARIPADA HARTA

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: HIDUP LEBIH BERHARGA DARIPADA HARTA

Senin, 19 Oktober 2026

Bacaan: Efesus 2:1–10 • Mazmur 100:2, 3, 4, 5 • Lukas 12:13–21

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang kita miliki.

Dalam Injil, Yesus menceritakan seorang kaya yang sibuk memperbesar lumbung dan menyimpan hasil panennya. Ia merasa masa depannya aman karena memiliki banyak harta. Namun ia lupa bahwa hidupnya sendiri berada di tangan Tuhan.

Yesus tidak melarang kita bekerja keras, membangun usaha, merencanakan masa depan, atau menikmati berkat. Yang Ia ingatkan adalah jangan sampai harta menjadi pusat hidup kita.

Hidup jauh lebih berharga daripada harta.

Apa gunanya memiliki banyak, tetapi kehilangan kasih, iman, kepedulian, dan hubungan dengan Tuhan?

Bacaan pertama juga mengingatkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah. Kita diselamatkan oleh kasih karunia, dan hidup kita dipanggil untuk menghasilkan pekerjaan baik.

Karena itu, setiap berkat yang kita terima seharusnya tidak berhenti pada diri sendiri. Berkat harus menjadi berkat bagi orang lain.

Hari ini mari bertanya: apa yang sedang saya kumpulkan dalam hidup—hanya harta untuk diri sendiri, atau juga kasih dan kebaikan yang bernilai di hadapan Tuhan?

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah aku menggunakan setiap berkat dengan bijaksana. Jauhkan hatiku dari keserakahan dan keterikatan pada harta. Jadikan hidupku penuh iman, kasih, dan kebaikan yang menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak


Sabtu, 17 Oktober 2026

JANGAN TAKUT BERSAKSI, ROH KUDUS MENYERTAI KITA

St Peteus Claver, Bukittinggi, 4 Okt 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: JANGAN TAKUT BERSAKSI, ROH KUDUS MENYERTAI KITA

Sabtu, 17 Oktober 2026

Bacaan: Efesus 1:15–23 • Mazmur 8 • Lukas 12:8–12

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berani hidup dan bersaksi tentang iman.

Dalam Injil, Yesus berkata bahwa siapa yang mengakui-Nya di hadapan manusia, akan diakui juga di hadapan para malaikat Allah. Ini mengingatkan bahwa iman tidak hanya disimpan di dalam hati, tetapi juga perlu terlihat dalam sikap, perkataan, dan tindakan.

Namun Yesus juga tahu bahwa bersaksi tidak selalu mudah. Ada saat kita takut ditolak, disalahpahami, atau tidak tahu harus berkata apa. Karena itu Ia memberikan janji yang sangat menguatkan: Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita apa yang harus kita katakan pada saat yang tepat.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus berdoa agar “mata hati” kita diterangi, supaya kita semakin memahami pengharapan dan besarnya kuasa Tuhan bagi orang yang percaya.

Hari ini kita diajak untuk tidak hidup dalam ketakutan. Kita tidak berjalan sendiri. Tuhan memberi kekuatan, hikmat, dan penyertaan melalui Roh Kudus.

Doa: Tuhan Yesus, berikan aku keberanian untuk mengakui dan menghidupi imanku. Terangilah mata hatiku dan penuhilah aku dengan Roh Kudus, agar setiap perkataan dan tindakanku menjadi kesaksian tentang kasih-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak


Jumat, 16 Oktober 2026

JANGAN TAKUT, TUHAN MENGENAL DAN MENJAGA KITA

St Petrus Claver Bukittinggi, 4 Okt 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: JANGAN TAKUT, TUHAN MENGENAL DAN MENJAGA KITA

Jumat, 16 Oktober 2026

Bacaan: Efesus 1:11–14 • Mazmur 33 • Lukas 12:1–7

Firman Tuhan hari ini mengajak kita hidup dengan tulus dan penuh percaya kepada Tuhan.

Dalam Injil, Yesus memperingatkan para murid agar waspada terhadap “ragi orang Farisi”, yaitu kemunafikan. Jangan sampai kita terlihat baik di luar, tetapi hati kita jauh dari kebenaran. Tuhan melihat lebih dalam daripada penampilan; Ia mengenal isi hati kita.

Namun Injil hari ini juga memberi penghiburan yang sangat kuat. Yesus berkata bahwa burung pipit saja tidak dilupakan Allah, bahkan rambut di kepala kita pun terhitung semuanya. Karena itu Yesus menegaskan, “Jangan takut; kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.”

Pesan ini mengingatkan bahwa hidup kita tidak pernah luput dari perhatian Tuhan. Ia mengetahui pergumulan, ketakutan, kebutuhan, dan setiap langkah kita.

Maka kita tidak perlu hidup dalam kepura-puraan atau ketakutan. Hiduplah dengan jujur, setia, dan percaya.

Doa: Tuhan, ajarlah aku hidup tulus di hadapan-Mu. Jauhkan aku dari kemunafikan dan ketakutan. Teguhkan imanku bahwa Engkau mengenal, memperhatikan, dan menjaga hidupku setiap hari. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

RAHMAT TUHAN HARUS MENGUBAH HIDUP KITA

St Petrus Claver Bukittinggi, 04 Okt 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: RAHMAT TUHAN HARUS MENGUBAH HIDUP KITA

Kamis, 15 Oktober 2026

Bacaan: Efesus 1:1–10 • Mazmur 98 • Lukas 11:47–54

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kita telah menerima begitu banyak rahmat dari Allah. Dalam Kristus kita dipilih, ditebus, diampuni, dan dilimpahi kasih karunia.

Namun rahmat itu tidak boleh berhenti pada pengetahuan atau kata-kata. Rahmat harus mengubah cara kita hidup.

Dalam Injil, Yesus menegur para ahli Taurat karena mereka memiliki pengetahuan, tetapi justru menjadi penghalang bagi orang lain untuk mendekat kepada Tuhan. Ini menjadi peringatan bagi kita: jangan sampai kita merasa dekat dengan Tuhan, tetapi sikap kita justru menjauhkan orang lain.

Semakin banyak kita mengenal Tuhan, seharusnya kita semakin rendah hati, penuh kasih, mudah mengampuni, dan menjadi berkat.

Mazmur hari ini mengajak kita menyanyikan nyanyian baru karena Tuhan telah melakukan karya besar. Nyanyian baru itu bukan hanya melalui mulut, tetapi terutama melalui hidup yang diperbarui.

Hari ini mari bertanya: apakah rahmat Tuhan sungguh terlihat dalam sikap dan tindakan saya?

Doa: Tuhan, terima kasih atas rahmat-Mu. Ubahlah hidupku agar semakin mencerminkan kasih-Mu dan membawa orang lain semakin dekat kepada-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Jumat, 02 Oktober 2026

TUHAN MENGUTUS MALAIKAT-NYA MENJAGA KITA

Gua Maria Tigalingga 27092026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: TUHAN MENGUTUS MALAIKAT-NYA MENJAGA KITA

Jumat, 2 Oktober 2026
Peringatan Para Malaikat Pelindung

Bacaan: Keluaran 23:20–23a • Mazmur 91 • Matius 18:1–5, 10

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan satu kebenaran yang meneguhkan: kita tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan menjaga dan menyertai setiap langkah hidup kita.

Dalam bacaan pertama Tuhan berfirman, “Sesungguhnya, Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu untuk melindungi engkau di jalan.” Tuhan mengetahui perjalanan hidup tidak selalu mudah. Ada bahaya, ketidakpastian, tantangan, bahkan hal-hal yang tidak dapat kita lihat. Namun Tuhan menyediakan perlindungan-Nya.

Mazmur 91 menegaskan janji yang sama: “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya.” (Mzm 91:11–12)

Betapa indahnya mengetahui bahwa perlindungan Tuhan menyertai perjalanan kita. Bukan berarti kita tidak pernah mengalami kesulitan, tetapi kita percaya bahwa di tengah setiap perjalanan, Tuhan tetap hadir dan menjaga kita menurut kehendak-Nya.

Dalam Injil, Yesus juga mengingatkan agar kita tidak meremehkan mereka yang kecil, sebab malaikat mereka selalu memandang wajah Bapa di surga.

Hari ini mari menjalani hidup dengan iman, bukan ketakutan. Dalam perjalanan, pekerjaan, keluarga, maupun setiap keputusan, percayalah: Tuhan berjalan bersama kita dan mengutus malaikat-Nya untuk menjaga kita.

Doa: Tuhan, terima kasih atas penyertaan dan perlindungan-Mu. Utuslah malaikat-Mu menjaga langkah kami, keluarga kami, perjalanan kami, dan seluruh kehidupan kami. Ajarlah kami selalu percaya kepada-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak


Rabu, 09 September 2026

KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM TUHAN

B Maria Karmel, 27 Sep 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM TUHAN

Rabu, 9 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII

Bacaan: 1 Korintus 7:25–31 • Mazmur 45:11–12, 14–15, 16–17 • Lukas 6:20–26

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kembali sumber kebahagiaan sejati dalam hidup.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa dunia dalam bentuknya sekarang sedang berlalu. Segala yang kita miliki, nikmati, perjuangkan, bahkan hal-hal yang sangat kita banggakan, semuanya bersifat sementara. Karena itu, kita boleh bekerja keras, membangun kehidupan, mengejar impian, dan menikmati berkat Tuhan, tetapi jangan sampai hati kita melekat sepenuhnya pada hal-hal duniawi.

Dalam Injil, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia: “Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Yesus juga berbicara tentang mereka yang lapar, menangis, dan ditolak karena Anak Manusia.

Ini bukan berarti kemiskinan atau penderitaan itu sendiri adalah sesuatu yang harus dicari. Pesannya adalah bahwa orang yang sadar akan keterbatasannya dan sungguh bergantung kepada Tuhan justru membuka hatinya bagi Kerajaan Allah.

Sebaliknya, ketika kita merasa cukup karena kekayaan, kenyamanan, keberhasilan, atau pujian, kita bisa perlahan merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini adalah: di manakah saya meletakkan rasa aman dan kebahagiaan saya?

Apakah pada uang, posisi, keberhasilan, penilaian orang lain, atau pada Tuhan?

Segala sesuatu di dunia dapat berubah. Tetapi Tuhan tetap sama.

Maka kebahagiaan sejati bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika di tengah apa pun yang terjadi, kita tetap memiliki Tuhan di dalam hati.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk tidak menggantungkan kebahagiaanku pada hal-hal yang sementara. Berikan aku hati yang selalu bergantung kepada-Mu, bersyukur dalam kelimpahan, tetap percaya dalam kekurangan, dan setia dalam setiap keadaan. Jadilah Engkau sumber sukacita dan kekuatanku. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Selasa, 08 September 2026

MENJADI BAGIAN DARI RENCANA TUHAN

With Ibu Edyta, B Maria Karmel, 27 Sep 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: MENJADI BAGIAN DARI RENCANA TUHAN

Selasa, 8 September 2026
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Bacaan: Mikha 5:1–4a • Mazmur 13:6ab, 6c • Matius 1:1–16, 18–23

Hari ini Gereja merayakan Kelahiran Santa Perawan Maria. Melalui Maria, kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam sejarah manusia dan menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Dalam bacaan pertama, Nabi Mikha menubuatkan bahwa dari Betlehem akan lahir seorang pemimpin yang akan menggembalakan umat-Nya dan membawa damai. Nubuat ini digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Injil menampilkan silsilah Yesus dan kemudian kisah bagaimana Maria mengandung dari Roh Kudus. Silsilah itu mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan berjalan melalui banyak generasi, melalui orang-orang yang tidak sempurna, melalui perjalanan panjang yang kadang sulit dipahami.

Maria mengambil bagian sangat penting dalam rencana itu. Ia tidak mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya, tetapi ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan.

Di sinilah kita belajar bahwa Tuhan tidak selalu meminta kita memahami seluruh rencana-Nya; Tuhan meminta kita percaya dan setia menjalani bagian kita.

Kadang kita bertanya mengapa sesuatu terjadi, mengapa jalan hidup berubah, atau mengapa rencana kita tidak berjalan seperti yang diharapkan. Namun Tuhan melihat jauh lebih luas daripada yang dapat kita lihat.

Hari ini mari belajar dari Maria: percaya, rendah hati, dan siap dipakai Tuhan.

Mungkin bagian kita tampak kecil, tetapi ketika dilakukan dalam ketaatan, Tuhan dapat menjadikannya bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Doa: Tuhan, terima kasih atas teladan Bunda Maria. Ajarlah aku untuk percaya kepada rencana-Mu, setia dalam setiap tugas, dan berani berkata ya kepada kehendak-Mu. Pakailah hidupku menjadi bagian dari karya-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak


BERANI MELAKUKAN YANG BAIK

Sakramen Mahakudus, Kisaran 20 Sep 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: BERANI MELAKUKAN YANG BAIK

Senin, 7 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII

Bacaan: 1 Korintus 5:1–8 • Mazmur 5:5–6, 7, 12 • Lukas 6:6–11

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengalami pembaruan hidup dan berani melakukan yang baik.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan jemaat untuk membuang “ragi yang lama” agar menjadi adonan yang baru. Ragi lama dapat berupa dosa, kesombongan, kepahitan, iri hati, kebiasaan buruk, atau cara berpikir yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak mungkin sungguh hidup baru jika masih terus mempertahankan kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari-Nya.

Dalam Injil, Yesus menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Yesus berkata, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu menaati perintah Yesus, dan tangannya pun sembuh.

Pesannya sangat sederhana tetapi kuat: iman bukan hanya percaya bahwa Tuhan mampu, tetapi berani menaati kehendak-Nya.

Sering kali Tuhan juga meminta kita untuk “mengulurkan tangan”: mengampuni, memulai kembali, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki hubungan, membantu orang lain, atau mengambil keputusan yang benar.

Para ahli Taurat dan orang Farisi justru sibuk mempersoalkan aturan, tetapi kehilangan belas kasih. Yesus mengingatkan bahwa hidup beriman bukan hanya soal menjalankan aturan, melainkan menghadirkan kasih dan kebaikan.

Hari ini mari bertanya pada diri sendiri: ragi lama apa yang harus saya buang, dan kebaikan apa yang harus saya lakukan?

Jangan menunggu kesempatan besar. Mulailah dari hal sederhana: berkata lebih lembut, mengampuni, menolong, berlaku jujur, memberi perhatian, dan menjadi berkat bagi orang lain.

Doa: Tuhan Yesus, bersihkanlah hatiku dari segala ragi lama yang menjauhkan aku dari-Mu. Berikan aku iman untuk menaati kehendak-Mu dan keberanian untuk selalu melakukan yang baik. Pakailah hidupku menjadi saluran kasih dan berkat bagi sesama. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

ALLAH YANG MEMBERI PERTUMBUHAN

Sakramen Mahakudus, Kisaran 20 Sep 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: ALLAH YANG MEMBERI PERTUMBUHAN

Rabu, 2 September 2026
Hari Biasa Pekan XXII

Bacaan: 1 Korintus 3:1–9 • Mazmur 33:12–13, 14–15, 20–21 • Lukas 4:38–44

Rasul Paulus berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Firman ini mengingatkan bahwa kita mempunyai bagian untuk dikerjakan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam tangan Tuhan.

Tugas kita adalah menanam dan menyiram: bekerja sungguh-sungguh, berdoa, belajar, melayani, dan tetap tekun. Jangan iri melihat keberhasilan orang lain atau kecewa ketika hasil belum terlihat. Kita semua adalah kawan sekerja Allah dengan tugas masing-masing.

Dalam Injil, Yesus tetap fokus pada perutusan-Nya. Walaupun banyak orang mencari dan ingin menahan-Nya, Ia tetap pergi memberitakan Kerajaan Allah ke tempat lain.

Hari ini kita diajak untuk tetap fokus, setia melakukan bagian kita, dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Teruslah menanam dan menyiram dengan iman. Pada waktunya, Tuhanlah yang memberi pertumbuhan.

Doa: Tuhan Yesus, berilah aku ketekunan untuk setia melakukan bagianku dan iman untuk menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Tuntun aku agar tetap fokus pada kehendak dan panggilan-Mu. Aku percaya, Engkaulah yang memberi pertumbuhan. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH

Sakramen Mahakudus, Kisaran, 20 Sep 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH

Selasa, 1 September 2026
Hari Biasa Pekan XXII

Bacaan: 1 Korintus 2:10b–16 • Mazmur 145:8–9, 10–11, 12–13ab, 13cd–14 • Lukas 4:31–37

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat satu hal yang sangat penting dalam kehidupan iman: siapa yang memimpin pikiran, keputusan, dan tindakan kita? Apakah kita hanya mengikuti cara berpikir dunia, keinginan diri sendiri, kekhawatiran, dan kepentingan sesaat, ataukah kita sungguh memberi ruang kepada Roh Allah untuk membimbing hidup kita?

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengatakan bahwa Roh Allah menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi Roh yang berasal dari Allah, supaya kita dapat memahami apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bahkan Paulus menutup pengajarannya dengan pernyataan yang sangat kuat: “Kami memiliki pikiran Kristus.”

Memiliki pikiran Kristus berarti belajar melihat kehidupan seperti Kristus melihatnya. Ketika dunia mengajarkan untuk membalas, Kristus mengajarkan mengampuni. Ketika dunia mendorong kita mengejar kepentingan diri sendiri, Kristus mengajarkan melayani. Ketika dunia menilai seseorang dari kekayaan, jabatan, dan keberhasilannya, Kristus melihat hati, kasih, kesetiaan, dan ketulusan.

Karena itu, hidup dalam Roh bukan hanya berbicara tentang pengalaman rohani atau banyaknya doa yang kita ucapkan. Hidup dalam Roh harus terlihat dalam cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan menjalankan tanggung jawab setiap hari.

Sebelum mengambil keputusan penting, apakah kita bertanya, “Tuhan, apakah ini sesuai dengan kehendak-Mu?” Ketika menghadapi masalah, apakah kita langsung dikuasai ketakutan dan emosi, atau memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memberikan kebijaksanaan? Ketika berhasil, apakah kita menjadi sombong atau semakin bersyukur dan rendah hati?

Injil hari ini memperlihatkan Yesus mengajar di Kapernaum. Orang-orang takjub karena perkataan-Nya penuh kuasa. Ketika ada seorang yang dikuasai roh jahat, Yesus memerintahkannya keluar. Roh itu pun keluar dan tidak mencelakakan orang tersebut. Orang banyak menjadi takjub melihat bahwa perkataan Yesus mempunyai wibawa dan kuasa.

Ada hal menarik dalam Injil ini. Roh jahat itu mengenal siapa Yesus. Ia bahkan berkata bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Artinya, mengenal siapa Yesus saja ternyata belum cukup.

Kita pun dapat mengetahui banyak hal tentang Tuhan, membaca Kitab Suci, mengikuti Misa, mendengarkan khotbah, bahkan mampu berbicara panjang tentang iman. Tetapi pertanyaan terpenting adalah: apakah kita sungguh membiarkan Tuhan menguasai dan mengubah hidup kita?

Iman bukan hanya soal mengenal Tuhan, tetapi hidup bersama Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.

Sabda Yesus mempunyai kuasa untuk membebaskan. Karena itu, apa pun yang sedang mengikat kehidupan kita—ketakutan, kemarahan, kepahitan, kecemasan, kebiasaan buruk, kesombongan, keputusasaan, atau dosa—janganlah kita menyerah. Bawalah semuanya kepada Tuhan.

Biarkan Sabda-Nya masuk lebih dalam ke dalam hati kita.

Kadang-kadang kita terlalu banyak mendengarkan suara dunia: suara yang mengatakan bahwa kita tidak mampu, bahwa masa depan kita suram, bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya, atau bahwa kebahagiaan hanya ditemukan dalam keberhasilan dan materi.

Hari ini kita diajak untuk lebih mendengarkan suara Tuhan.

Ketika Tuhan berkata, “Jangan takut,” percayalah. Ketika Tuhan meminta kita mengampuni, lakukanlah. Ketika Tuhan menunjukkan jalan yang benar, berjalanlah di dalamnya. Ketika Tuhan meminta kita bangkit setelah kegagalan, bangkitlah kembali.

Sabda Tuhan bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dipercaya dan dilakukan.

Memasuki bulan September ini, firman Tuhan menjadi ajakan yang sangat baik untuk sebuah awal yang baru. Mungkin bulan lalu ada rencana yang belum tercapai, keputusan yang kurang tepat, kesempatan yang terlewat, atau pergumulan yang belum selesai. Jangan terus hidup dalam penyesalan. Serahkan semuanya kepada Tuhan, ambil pelajarannya, lalu melangkahlah kembali bersama-Nya.

Mari memulai bulan ini dengan satu tekad: biarkan Roh Kudus memimpin pikiran kita, Sabda Tuhan mengarahkan keputusan kita, dan Kristus menjadi pusat kehidupan kita.

Kita tetap bekerja keras, merencanakan yang terbaik, mengejar impian, dan melakukan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Namun di atas semuanya itu, kita menyadari bahwa kita membutuhkan hikmat dan penyertaan Tuhan.

Sebab ketika hidup kita dipimpin oleh Roh Allah, kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki melalui hidupku?”

Dan ketika kehendak kita semakin selaras dengan kehendak-Nya, pikiran kita semakin menjadi pikiran Kristus, dan tindakan kita semakin mencerminkan kasih-Nya, di situlah hidup kita sungguh menjadi berkat bagi orang lain.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari yang baru dan bulan September yang Engkau anugerahkan kepadaku. Penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu dan tuntunlah pikiran, perkataan, keputusan, serta setiap langkah hidupku. Ajarlah aku untuk tidak hanya mengenal Engkau, tetapi sungguh hidup bersama-Mu dan melakukan kehendak-Mu. Bebaskanlah aku dari segala ketakutan, kekhawatiran, kepahitan, kesombongan, dan segala sesuatu yang menjauhkan aku dari-Mu. Berilah aku pikiran Kristus, hati yang penuh kasih, serta keberanian untuk melakukan yang benar. Aku menyerahkan keluarga, pekerjaan, pelayanan, usaha, rencana, dan seluruh perjalanan bulan ini ke dalam tangan-Mu. Pakailah hidupku menjadi berkat dan untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Sabtu, 29 Agustus 2026

BERANI BERDIRI DI PIHAK KEBENARAN

St Hieronimus, Pontianak 30 Agustus 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: BERANI BERDIRI DI PIHAK KEBENARAN

Sabtu, 29 Agustus 2026
PW Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis

Bacaan: Yeremia 1:17–19 • Mazmur 71:1–2, 3–4a, 5–6ab, 15ab, 17 • Markus 6:17–29

Firman Tuhan hari ini berbicara sangat kuat tentang keberanian, kebenaran, dan kesetiaan. Menjadi orang beriman bukan berarti hidup kita selalu mudah dan tanpa tantangan. Ada saatnya iman justru menuntut kita untuk berdiri teguh, mengatakan yang benar, dan mempertahankan prinsip sekalipun ada risiko yang harus kita hadapi.

Dalam bacaan pertama, Tuhan memanggil Nabi Yeremia untuk menjalankan tugas yang tidak mudah. Ia harus menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang belum tentu mau mendengarkannya. Tuhan berkata kepadanya, “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap! Bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu.”

Yeremia tidak dijanjikan bahwa semua orang akan menerima perkataannya. Sebaliknya, Tuhan mengatakan bahwa ia akan menghadapi perlawanan. Namun Tuhan memberikan satu jaminan yang menjadi sumber kekuatannya: “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau.”

Inilah kekuatan seorang yang hidup dalam Tuhan. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan yang benar meskipun kita mengetahui ada risiko yang harus dihadapi. Kita berani bukan karena merasa diri kuat, tetapi karena percaya bahwa Tuhan menyertai kita.

Pesan ini menjadi nyata dalam kehidupan Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini.

Yohanes mengetahui bahwa Herodes melakukan sesuatu yang tidak benar dengan mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya sendiri. Yohanes dapat saja memilih diam. Ia dapat mencari keamanan bagi dirinya sendiri. Namun ia memilih mengatakan kebenaran kepada Herodes: “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu!”

Perkataan itu akhirnya membawa Yohanes ke dalam penjara dan kemudian kepada kematian. Tetapi Yohanes tidak mengubah kebenaran hanya demi menyelamatkan dirinya.

Di sinilah kita melihat integritas seorang hamba Tuhan.

Kebenaran tetaplah kebenaran sekalipun tidak disukai. Kesalahan tetaplah kesalahan sekalipun dilakukan oleh orang yang berkuasa.

Sebaliknya, Herodes menggambarkan seseorang yang sebenarnya mengetahui kebenaran tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengikutinya. Ia mengetahui bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci. Ia bahkan senang mendengarkan Yohanes. Tetapi ketika harus mengambil keputusan, Herodes lebih takut kehilangan muka di hadapan para tamunya daripada melakukan apa yang benar.

Dari Herodes kita belajar bahwa mengetahui kebenaran saja tidak cukup. Kebenaran harus diwujudkan dalam keputusan dan tindakan.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita tidak menghadapi seorang raja seperti Yohanes Pembaptis, tetapi kita terus diperhadapkan pada berbagai pilihan: jujur atau berbohong, mempertahankan integritas atau mengambil jalan pintas, mengatakan yang benar atau diam demi kenyamanan, mengikuti kehendak Tuhan atau sekadar mengikuti apa yang dilakukan banyak orang.

Terkadang melakukan yang benar memang mempunyai harga.

Kejujuran mungkin membuat kita kehilangan keuntungan. Memegang prinsip mungkin membuat kita tidak disukai. Menolak sesuatu yang salah mungkin membuat kita kehilangan kesempatan. Tetapi keuntungan yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran dan integritas tidak akan pernah memberikan kedamaian sejati.

Karena itu kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya tetap berani melakukan yang benar ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah saya tetap jujur ketika ketidakjujuran memberikan keuntungan? Apakah saya tetap memegang prinsip ketika lingkungan mengajak saya berkompromi?

Namun berdiri di pihak kebenaran bukan berarti kita boleh menjadi kasar, merasa paling benar, atau mudah menghakimi orang lain. Kebenaran harus berjalan bersama kasih. Kita dipanggil untuk tegas dalam prinsip, tetapi tetap rendah hati dalam sikap; berani mengatakan kebenaran, tetapi tetap melakukannya dengan kasih dan kebijaksanaan.

Dalam keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat, kita membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya: orang yang perkataannya dapat dipegang, yang tetap jujur sekalipun ada kesempatan untuk menyimpang, dan yang tidak mengubah prinsip hanya karena situasi berubah.

Itulah integritas.

Hari ini Tuhan berkata kepada kita seperti kepada Yeremia: bangkitlah, jangan takut, dan lakukanlah apa yang benar. Kita mungkin menghadapi tantangan, penolakan, atau ketidaknyamanan. Tetapi kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai orang yang berjalan dalam kebenaran.

Yohanes Pembaptis kehilangan hidupnya di dunia, tetapi ia tidak kehilangan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan hidup yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan kita, seberapa banyak yang kita miliki, atau seberapa besar penghargaan manusia kepada kita. Keberhasilan sejati adalah ketika sampai akhir kita tetap setia kepada Tuhan, menjaga kebenaran, dan mempertahankan integritas.

Maka hari ini mari kita membuat satu keputusan: apa pun situasinya, tetaplah memilih yang benar. Ketika harus memilih antara keuntungan dan integritas, pilihlah integritas. Ketika harus memilih antara popularitas dan kebenaran, pilihlah kebenaran. Ketika harus memilih antara mengikuti arus atau mengikuti kehendak Tuhan, pilihlah Tuhan.

Sebab Tuhan telah berjanji: “Aku menyertai engkau.”

Doa: Tuhan Yesus, berilah aku keberanian untuk selalu berdiri di pihak kebenaran. Ajarlah aku untuk tetap jujur ketika ada kesempatan untuk menyimpang, tetap memegang prinsip ketika menghadapi tekanan, dan tetap setia kepada-Mu ketika jalan yang benar terasa sulit. Jauhkanlah aku dari keinginan mencari keuntungan dengan mengorbankan kebenaran dan integritas. Berilah aku kebijaksanaan agar mampu menyampaikan kebenaran dengan kasih, ketegasan dengan kerendahan hati, dan keberanian tanpa menghakimi orang lain. Ketika aku takut menghadapi konsekuensi karena melakukan yang benar, ingatkanlah aku akan janji-Mu: Engkau menyertaiku. Semoga melalui perkataan, keputusan, pekerjaan, dan seluruh hidupku, nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

DATANG KEPADA TUHAN DENGAN HATI SEORANG ANAK

St Hieronimus, Pontianak, 30 August 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: DATANG KEPADA TUHAN DENGAN HATI SEORANG ANAK

Sabtu, 15 Agustus 2026

Bacaan: Yehezkiel 18:1–10, 13b, 30–32 • Mazmur 51:12–13, 14–15, 18–19 • Matius 19:13–15

Dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan menyampaikan pesan yang sangat jelas melalui Nabi Yehezkiel: setiap orang bertanggung jawab atas hidup dan pilihannya sendiri. Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan dosa, berbalik kepada-Nya, dan memperbarui hati serta hidup kita. Tuhan tidak menghendaki kebinasaan manusia. Sebaliknya, Ia menghendaki kita bertobat dan hidup. Karena itu firman-Nya berkata, “Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan.”

Pertobatan bukan hanya menyesali kesalahan masa lalu. Pertobatan berarti berani mengubah arah hidup. Kita meninggalkan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan dan memilih kembali jalan-Nya. Kita memohon agar Tuhan memperbarui hati kita, seperti doa pemazmur hari ini: “Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan perbaruilah semangat yang teguh dalam batinku.”

Injil hari ini kemudian memperlihatkan gambaran yang sangat sederhana tetapi mendalam. Orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Para murid mencoba menghalangi, tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.”

Mengapa Yesus begitu menerima anak-anak? Bukan karena anak-anak selalu sempurna, tetapi karena mereka memiliki sesuatu yang sering perlahan-lahan hilang ketika kita menjadi dewasa: kesederhanaan hati, ketulusan, kepercayaan, dan ketergantungan.

Seorang anak datang kepada orang tuanya dengan percaya. Ia tidak harus mengetahui semua jawaban terlebih dahulu. Ia percaya bahwa dirinya dikasihi, dijaga, dan diperhatikan. Demikian juga seharusnya hubungan kita dengan Tuhan.

Namun dalam perjalanan hidup, hati kita sering menjadi semakin rumit. Pengalaman, kekecewaan, keberhasilan, ambisi, kekhawatiran, bahkan luka masa lalu dapat membuat kita terlalu mengandalkan diri sendiri. Kita ingin memahami semuanya sebelum percaya. Kita ingin melihat hasil terlebih dahulu sebelum melangkah. Kita berdoa, tetapi dalam hati masih ingin Tuhan mengikuti rencana kita.

Hari ini Yesus mengundang kita kembali kepada iman seorang anak.

Datanglah kepada Tuhan apa adanya. Percayakanlah kepada-Nya apa yang sedang kita perjuangkan. Ketika jalan di depan belum jelas, tetaplah percaya. Ketika doa belum terjawab, jangan berhenti berharap. Ketika mengalami kegagalan, jangan menjauh dari Tuhan. Dan ketika diberkati dengan keberhasilan, tetaplah rendah hati dan sadar bahwa semua yang kita miliki berasal dari kasih dan kemurahan-Nya.

Ada beberapa sikap hati yang dapat kita pelihara hari ini:

Pertama, hati yang sederhana. Jangan membuat hubungan dengan Tuhan menjadi rumit. Berdoalah dengan jujur, dengarkan firman-Nya, lalu lakukan apa yang kita tahu benar.

Kedua, hati yang percaya. Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang hari esok.

Ketiga, hati yang mau dibentuk. Seperti seorang anak yang terus belajar, jangan pernah merasa sudah mengetahui semuanya. Biarkan Tuhan menegur, mengajar, dan memperbarui hidup kita.

Keempat, hati yang cepat kembali kepada Tuhan. Ketika jatuh dalam kesalahan, jangan tinggal dalam dosa dan rasa bersalah. Bertobatlah, bangkitlah, dan datanglah kembali kepada-Nya.

Kelima, hati yang bergantung kepada Tuhan. Kita tetap harus bekerja keras, merencanakan, dan melakukan yang terbaik. Tetapi pada akhirnya kita sadar bahwa kekuatan, kesempatan, kesehatan, kehidupan, dan keberhasilan semuanya adalah anugerah Tuhan.

Mungkin hari ini kita sedang membawa banyak hal dalam hati: keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, impian, pergumulan, atau masa depan yang belum pasti. Yesus berkata kepada kita seperti Ia menerima anak-anak itu: datanglah kepada-Ku.

Jangan biarkan kesibukan menghalangi kita datang kepada Tuhan. Jangan biarkan kesombongan membuat kita merasa tidak membutuhkan-Nya. Jangan pula membiarkan kegagalan dan dosa membuat kita takut mendekat kepada-Nya.

Mari datang dengan hati seorang anak: sederhana dalam iman, tulus dalam kasih, rendah hati dalam keberhasilan, dan penuh kepercayaan dalam setiap keadaan.

Sebab semakin kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, semakin kita menemukan bahwa kekuatan terbesar bukanlah ketika kita mampu mengendalikan segala sesuatu, tetapi ketika kita mampu berkata dengan penuh iman:

“Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Bentuklah hatiku, tuntunlah langkahku, dan jadilah kehendak-Mu dalam hidupku.”

Doa: Tuhan Yesus, ciptakanlah hati yang murni dan baru dalam diriku. Ampunilah segala kesalahan dan kelemahanku, dan ajarlah aku untuk selalu kembali kepada-Mu. Berilah aku hati seperti seorang anak: sederhana, tulus, rendah hati, dan penuh kepercayaan kepada-Mu. Ketika aku tidak memahami jalan hidupku, teguhkanlah imanku. Ketika aku berhasil, jagalah aku tetap rendah hati. Ketika aku jatuh, berilah aku keberanian untuk bertobat dan bangkit kembali. Aku menyerahkan keluarga, pekerjaan, pelayanan, impian, dan seluruh masa depanku ke dalam tangan-Mu. Tuntunlah setiap langkahku agar hidupku semakin berkenan kepada-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Pontianak 15 Agustus 2026

Dr. Manuntun Sitinjak

Kamis, 06 Agustus 2026

Dengarkan Dia

St Hieronimus Pontianak, 30 Aug 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Dengarkan Dia

Kamis, 6 Agustus 2026
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (Transfigurasi Tuhan)

Bacaan: Daniel 7:9–10, 13–14 • Mazmur 97:1–2, 5–6, 9 • 2 Petrus 1:16–19 • Matius 17:1–9

Hari ini Gereja merayakan Pesta Transfigurasi Tuhan, ketika Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya menjadi putih berkilau, dan Musa serta Elia tampak berbicara dengan-Nya. Dari dalam awan terdengar suara Bapa, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia!"

Peristiwa ini terjadi sebelum Yesus memasuki jalan salib. Tuhan ingin menguatkan iman para murid agar mereka tetap percaya ketika nanti menyaksikan penderitaan-Nya. Kemuliaan di gunung menjadi jaminan bahwa salib bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.

Dalam hidup, kita juga mengalami "gunung" dan "lembah". Ada saat-saat penuh sukacita, tetapi ada pula masa-masa penuh pergumulan, kegagalan, dan air mata. Pada saat seperti itulah kita perlu mengingat bahwa Tuhan tetap menyertai kita. Ia tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya, bahkan ketika jalan yang harus dilalui terasa berat.

Pesan utama hari ini sangat sederhana namun mendalam: "Dengarkanlah Dia." Di tengah begitu banyak suara dunia yang menawarkan jalan pintas, ketakutan, dan kebingungan, kita dipanggil untuk mendengarkan suara Kristus melalui Sabda-Nya. Ketika kita mengikuti-Nya dengan setia, terang kemuliaan-Nya akan menuntun setiap langkah hidup kita.

Kemuliaan Kristus bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk mengubah hidup kita. Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita dipanggil memancarkan kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan pengharapan kepada orang-orang di sekitar kita.

Doa

Tuhan Yesus, terangilah hidupku dengan cahaya kemuliaan-Mu. Ajarlah aku untuk selalu mendengarkan Sabda-Mu dan tetap setia mengikuti-Mu, baik dalam sukacita maupun penderitaan. Ubahlah hidupku agar semakin menyerupai Engkau dan menjadi terang bagi sesamaku. Amin.

Ketika kita mendengarkan Kristus dan berjalan bersama-Nya, kemuliaan-Nya akan terpancar melalui hidup kita.

Dr. Manuntun Sitinjak

Rabu, 05 Agustus 2026

Kasih Karunia bagi Orang yang Percaya

St Hieronimus Pontianak, 30 Aug 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Kasih Karunia bagi Orang yang Percaya

Rabu, 5 Agustus 2026

Bacaan: Yeremia 31:1–7 • Yeremia 31:10,11–12ab,13 • Matius 15:21–28

Dalam bacaan pertama, Tuhan menyampaikan janji yang penuh pengharapan kepada bangsa Israel. Meskipun mereka pernah mengalami pembuangan dan penderitaan, Tuhan tidak pernah melupakan mereka. "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal." Kasih Allah tidak bergantung pada kesempurnaan manusia, tetapi pada kesetiaan-Nya sendiri. Ia selalu membuka jalan pemulihan bagi setiap orang yang mau kembali kepada-Nya.

Injil hari ini menghadirkan kisah perempuan Kanaan yang datang memohon kesembuhan bagi anaknya. Ia adalah seorang asing, bukan bagian dari bangsa Israel. Pada awalnya, Yesus seolah tidak menanggapi permohonannya. Namun perempuan itu tidak menyerah. Dengan kerendahan hati, ia tetap percaya bahwa belas kasih Tuhan bahkan cukup dinyatakan melalui "remah-remah" dari meja-Nya. Iman yang teguh dan rendah hati itulah yang membuat Yesus berkata, "Hai ibu, besar imanmu! Terjadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Putrinya pun sembuh seketika.

Sering kali dalam hidup, doa kita terasa belum dijawab. Kita mudah berpikir bahwa Tuhan diam atau bahkan menolak permohonan kita. Padahal, Tuhan sedang membentuk iman agar semakin dewasa. Ia menghendaki kita datang kepada-Nya bukan hanya saat segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga ketika jawaban-Nya belum kita lihat.

Iman sejati bukanlah iman yang menyerah ketika menghadapi penundaan, melainkan iman yang tetap percaya kepada kasih dan kuasa Tuhan. Ketekunan dalam doa, kerendahan hati, dan keyakinan kepada-Nya membuka jalan bagi karya-Nya yang ajaib dalam hidup kita.

Doa

Tuhan Yesus, ajarlah aku memiliki iman yang teguh seperti perempuan Kanaan. Ketika doaku belum terjawab, mampukan aku untuk tetap percaya kepada kasih dan rencana-Mu. Bentuklah hatiku agar selalu rendah hati, tekun berdoa, dan setia mengikuti kehendak-Mu. Amin.

Tuhan tidak pernah mengabaikan iman yang tetap berharap kepada-Nya.

Dr. Manuntun Sitinjak

Selasa, 04 Agustus 2026

Kemurnian Hati yang Berkenan kepada Tuhan



St Hieronimus, Pontianak 30 Aug 2026

🙏 RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Kemurnian Hati yang Berkenan kepada Tuhan

Selasa, 4 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Yohanes Maria Vianney, Imam

Bacaan: Yeremia 30:1–2, 12–15, 18–22 • Mazmur 102:16–18, 19–21, 29, 22–23 • Matius 15:1–2, 10–14

Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi mempersoalkan murid-murid Yesus karena tidak mengikuti tradisi membasuh tangan sebelum makan. Namun Yesus mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah sekadar ritual lahiriah, melainkan kemurnian hati. Tuhan melihat isi hati, bukan hanya penampilan luar atau kebiasaan keagamaan.

Sering kali kita juga mudah merasa sudah menjadi orang baik karena rajin beribadah, aktif melayani, atau melakukan banyak kegiatan rohani. Semua itu memang baik, tetapi Tuhan menghendaki sesuatu yang lebih dalam: hati yang sungguh mengasihi-Nya dan mengasihi sesama. Ibadah yang sejati harus menghasilkan perubahan hidup, kerendahan hati, kejujuran, pengampunan, dan kasih.

Dalam bacaan pertama, Tuhan berjanji akan memulihkan umat-Nya yang terluka. Meskipun mereka telah jatuh karena dosa, kasih Tuhan tetap lebih besar daripada kegagalan mereka. Ia bukan hanya menyembuhkan luka, tetapi juga membangun kembali kehidupan umat-Nya.

Santo Yohanes Maria Vianney, yang kita peringati hari ini, menjadi teladan seorang imam yang hidup dengan hati yang murni, rendah hati, dan penuh kasih. Kesuciannya bukan lahir dari penampilan, tetapi dari hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan dan pengabdiannya kepada umat.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup rohani kita hanya sebatas rutinitas, atau sungguh mengubah hati kita menjadi semakin serupa dengan Kristus?

Doa:
Tuhan Yesus, sucikanlah hatiku dari segala kesombongan, kemunafikan, dan dosa. Bantulah aku agar tidak hanya beribadah dengan bibirku, tetapi juga memuliakan-Mu melalui hati, pikiran, perkataan, dan perbuatanku setiap hari. Amin.

Tuhan memberkati kita semua. ❤️

Dr. Manuntun Sitinjak

Senin, 03 Agustus 2026

Tetap Percaya di Tengah Badai

St Hieronymus Pontianak, 30 Aug 2026

🙏 RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Tetap Percaya di Tengah Badai

Senin, 3 Agustus 2026

Bacaan: Yeremia 28:1–17 • Mazmur 119:29, 43, 79–80, 95, 102 • Matius 14:22–36

Dalam Injil hari ini, para murid berada di tengah danau ketika badai besar menerpa. Ombak mengguncang perahu, sementara Yesus belum bersama mereka. Di saat mereka hampir putus asa, Yesus datang berjalan di atas air dan berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Petrus pun berani melangkah keluar dari perahu. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia dapat berjalan di atas air. Namun ketika ia lebih memperhatikan angin dan ombak, ia mulai tenggelam.

Pengalaman Petrus adalah gambaran hidup kita. Selama fokus kita tertuju kepada Tuhan, kita memiliki kekuatan untuk menghadapi persoalan. Tetapi ketika perhatian kita lebih dipenuhi rasa takut, masalah, atau kekhawatiran, iman kita mulai goyah.

Bacaan pertama juga mengingatkan kita untuk tidak mudah percaya kepada suara-suara yang menyesatkan. Nabi Hananya menyampaikan pesan yang menyenangkan telinga, tetapi bukan kehendak Tuhan. Sebaliknya, Yeremia tetap setia menyampaikan kebenaran meskipun tidak populer. Firman Tuhan mengajak kita untuk membangun hidup di atas kebenaran Allah, bukan sekadar mengikuti apa yang ingin kita dengar.

Dalam kehidupan sehari-hari, badai bisa berupa masalah keluarga, kesehatan, pekerjaan, maupun tantangan ekonomi. Yesus tidak selalu langsung menghilangkan badai, tetapi Ia selalu hadir di tengah badai itu. Kehadiran-Nya memberi kekuatan, damai, dan harapan baru.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu memandang kepada-Mu, bukan kepada besarnya badai yang kuhadapi. Teguhkan imanku agar aku tetap setia pada kebenaran dan percaya bahwa Engkau selalu menyertaiku. Amin.

Tuhan memberkati kita semua. ❤️

Dr. Manuntun Sitinjak

Tetap Setia di Tengah Penolakan

Salib Suci, Ngabang, 23 Agustus 2026

📖 RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Tetap Setia di Tengah Penolakan

Sabtu, 1 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Alfonsus Maria de Liguori

Bacaan: Yeremia 26:11–16,24 • Mazmur 69:15–16,30–31,33–34 • Matius 14:1–12

Nabi Yeremia diadili karena dengan setia menyampaikan firman Tuhan. Banyak orang ingin menghukumnya, tetapi Yeremia tidak mengubah pesannya demi menyenangkan manusia. Ia lebih memilih taat kepada Tuhan daripada mencari kenyamanan. Tuhan pun melindunginya melalui orang-orang yang membela kebenaran.

Dalam Injil, kita melihat akhir hidup Yohanes Pembaptis. Karena berani menegur dosa Raja Herodes, Yohanes dipenjara dan akhirnya dipenggal. Ia kehilangan nyawanya, tetapi tidak pernah kehilangan kesetiaannya kepada Allah.

Kedua bacaan hari ini mengingatkan bahwa mengikuti Tuhan tidak selalu mudah. Ada saatnya kita disalahpahami, ditolak, bahkan dikorbankan karena memilih hidup benar. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang tetap setia kepada-Nya. Kesetiaan kepada kebenaran mungkin menuntut pengorbanan, tetapi itulah jalan menuju kemuliaan.

Di zaman sekarang, kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus: jujur di tempat kerja, setia dalam keluarga, berani menolak ketidakbenaran, dan tetap mengasihi meski tidak selalu dihargai. Jangan takut jika harus berjalan berbeda dari arus dunia. Tuhan melihat kesetiaan kita dan akan menjadi kekuatan di setiap langkah.

Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku hati yang teguh seperti Yeremia dan Yohanes Pembaptis. Mampukan aku tetap setia kepada-Mu, berani hidup dalam kebenaran, dan tidak takut menghadapi penolakan demi nama-Mu. Amin.

Tuhan memberkati kita semua. ❤️

Dr. Manuntun Sitinjak


Kamis, 30 Juli 2026

Dibentuk Menjadi Bejana yang Berguna

Salib Suci, Ngabang 23 Aug 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Dibentuk Menjadi Bejana yang Berguna

Kamis, 30 Juli 2026

Bacaan: Yeremia 18:1–6 • Mazmur 146:2abc, 2d–4, 5–6 • Matius 13:47–53

Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia diajak Tuhan mengunjungi rumah seorang tukang periuk. Ketika bejana yang sedang dibuat rusak, sang tukang tidak membuang tanah liat itu, tetapi membentuknya kembali menjadi bejana yang baru. Melalui peristiwa sederhana itu, Tuhan menyampaikan pesan yang sangat mendalam: "Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku."

Dalam Injil, Yesus melanjutkan pengajaran tentang Kerajaan Surga melalui perumpamaan pukat yang menangkap berbagai jenis ikan. Setelah pukat diangkat ke darat, ikan yang baik dikumpulkan, sedangkan yang tidak baik dibuang. Yesus mengingatkan bahwa pada akhirnya akan ada pemisahan antara mereka yang hidup menurut kehendak Allah dan mereka yang memilih jalan kejahatan.

Kedua bacaan hari ini mengajak kita untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah berhenti membentuk hidup kita. Kegagalan, kelemahan, bahkan dosa bukanlah akhir dari segalanya apabila kita mau bertobat. Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, Tuhan dapat membentuk kembali hidup kita menjadi lebih indah dan berguna.

Namun, proses pembentukan itu membutuhkan kerendahan hati dan ketaatan. Hati yang keras sulit dibentuk, sedangkan hati yang mau mendengarkan dan mengikuti kehendak Tuhan akan menjadi bejana yang dipakai-Nya untuk membawa kasih, damai, dan harapan bagi banyak orang.

Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku sungguh membiarkan Tuhan membentuk hidupku setiap hari, atau aku masih lebih memilih mengikuti kehendakku sendiri? Percayalah, ketika kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, Dia akan mengubah kelemahan menjadi kekuatan, luka menjadi berkat, dan hidup kita menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

Doa:

Tuhan, bentuklah hidupku seperti tukang periuk membentuk tanah liat. Singkirkanlah kesombongan, egoisme, dan dosa yang menghalangi karya-Mu dalam diriku. Jadikanlah aku bejana yang berguna, yang memancarkan kasih-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Tuhan memberkati kita semua. ❤️

Dr. Manuntun Sitinjak

Percaya kepada Yesus, Sang Kebangkitan dan Hidup

Tj Hulu, Pontianak, 16 Agustus 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: Percaya kepada Yesus, Sang Kebangkitan dan Hidup

Rabu, 29 Juli 2026
Peringatan Wajib Santa Marta, Santa Maria, dan Santo Lazarus

Bacaan Hari Ini:

  • Yeremia 15:10, 16–21
  • Mazmur 59
  • Yohanes 11:19–27

Dalam Injil hari ini, Marta menyambut Yesus dengan hati yang sedang berduka karena kematian saudaranya, Lazarus. Namun di tengah kesedihan itu, ia tetap memiliki iman yang teguh. Ketika Yesus berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati," Marta menjawab dengan penuh keyakinan, "Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah."

Iman Marta mengajarkan kita bahwa percaya kepada Tuhan bukan berarti hidup tanpa air mata atau persoalan. Justru di tengah kesulitan, kehilangan, dan ketidakpastian, iman kita diuji dan dimurnikan. Tuhan tidak selalu langsung mengubah keadaan, tetapi Ia selalu hadir memberikan harapan, kekuatan, dan kehidupan baru.

Sering kali kita berdoa agar masalah segera selesai. Namun Tuhan terlebih dahulu mengundang kita untuk percaya kepada-Nya. Ketika iman tetap teguh, kita akan melihat karya Tuhan pada waktu-Nya yang sempurna.

Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku sungguh percaya kepada Yesus, bukan hanya ketika semuanya berjalan baik, tetapi juga saat menghadapi pencobaan? Iman yang teguh akan melahirkan pengharapan, dan pengharapan itu tidak pernah mengecewakan.

Doa: Tuhan Yesus, Engkaulah Kebangkitan dan Hidup. Teguhkanlah imanku agar aku tetap percaya kepada-Mu dalam setiap keadaan. Berilah aku hati seperti Marta, yang tetap yakin akan kuasa dan kasih-Mu, sehingga aku dapat hidup dalam pengharapan dan menjadi saksi kasih-Mu bagi sesama. Amin.

Tuhan memberkati kita semua. ❤️

Dr. Manuntun Sitinjak