RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: DATANG KEPADA TUHAN DENGAN HATI SEORANG ANAK
Sabtu, 15 Agustus 2026
Bacaan: Yehezkiel 18:1–10, 13b, 30–32 • Mazmur 51:12–13, 14–15, 18–19 • Matius 19:13–15
Dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan menyampaikan pesan yang sangat jelas melalui Nabi Yehezkiel: setiap orang bertanggung jawab atas hidup dan pilihannya sendiri. Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan dosa, berbalik kepada-Nya, dan memperbarui hati serta hidup kita. Tuhan tidak menghendaki kebinasaan manusia. Sebaliknya, Ia menghendaki kita bertobat dan hidup. Karena itu firman-Nya berkata, “Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan.”
Pertobatan bukan hanya menyesali kesalahan masa lalu. Pertobatan berarti berani mengubah arah hidup. Kita meninggalkan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan dan memilih kembali jalan-Nya. Kita memohon agar Tuhan memperbarui hati kita, seperti doa pemazmur hari ini: “Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan perbaruilah semangat yang teguh dalam batinku.”
Injil hari ini kemudian memperlihatkan gambaran yang sangat sederhana tetapi mendalam. Orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Para murid mencoba menghalangi, tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.”
Mengapa Yesus begitu menerima anak-anak? Bukan karena anak-anak selalu sempurna, tetapi karena mereka memiliki sesuatu yang sering perlahan-lahan hilang ketika kita menjadi dewasa: kesederhanaan hati, ketulusan, kepercayaan, dan ketergantungan.
Seorang anak datang kepada orang tuanya dengan percaya. Ia tidak harus mengetahui semua jawaban terlebih dahulu. Ia percaya bahwa dirinya dikasihi, dijaga, dan diperhatikan. Demikian juga seharusnya hubungan kita dengan Tuhan.
Namun dalam perjalanan hidup, hati kita sering menjadi semakin rumit. Pengalaman, kekecewaan, keberhasilan, ambisi, kekhawatiran, bahkan luka masa lalu dapat membuat kita terlalu mengandalkan diri sendiri. Kita ingin memahami semuanya sebelum percaya. Kita ingin melihat hasil terlebih dahulu sebelum melangkah. Kita berdoa, tetapi dalam hati masih ingin Tuhan mengikuti rencana kita.
Hari ini Yesus mengundang kita kembali kepada iman seorang anak.
Datanglah kepada Tuhan apa adanya. Percayakanlah kepada-Nya apa yang sedang kita perjuangkan. Ketika jalan di depan belum jelas, tetaplah percaya. Ketika doa belum terjawab, jangan berhenti berharap. Ketika mengalami kegagalan, jangan menjauh dari Tuhan. Dan ketika diberkati dengan keberhasilan, tetaplah rendah hati dan sadar bahwa semua yang kita miliki berasal dari kasih dan kemurahan-Nya.
Ada beberapa sikap hati yang dapat kita pelihara hari ini:
Pertama, hati yang sederhana. Jangan membuat hubungan dengan Tuhan menjadi rumit. Berdoalah dengan jujur, dengarkan firman-Nya, lalu lakukan apa yang kita tahu benar.
Kedua, hati yang percaya. Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang hari esok.
Ketiga, hati yang mau dibentuk. Seperti seorang anak yang terus belajar, jangan pernah merasa sudah mengetahui semuanya. Biarkan Tuhan menegur, mengajar, dan memperbarui hidup kita.
Keempat, hati yang cepat kembali kepada Tuhan. Ketika jatuh dalam kesalahan, jangan tinggal dalam dosa dan rasa bersalah. Bertobatlah, bangkitlah, dan datanglah kembali kepada-Nya.
Kelima, hati yang bergantung kepada Tuhan. Kita tetap harus bekerja keras, merencanakan, dan melakukan yang terbaik. Tetapi pada akhirnya kita sadar bahwa kekuatan, kesempatan, kesehatan, kehidupan, dan keberhasilan semuanya adalah anugerah Tuhan.
Mungkin hari ini kita sedang membawa banyak hal dalam hati: keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, impian, pergumulan, atau masa depan yang belum pasti. Yesus berkata kepada kita seperti Ia menerima anak-anak itu: datanglah kepada-Ku.
Jangan biarkan kesibukan menghalangi kita datang kepada Tuhan. Jangan biarkan kesombongan membuat kita merasa tidak membutuhkan-Nya. Jangan pula membiarkan kegagalan dan dosa membuat kita takut mendekat kepada-Nya.
Mari datang dengan hati seorang anak: sederhana dalam iman, tulus dalam kasih, rendah hati dalam keberhasilan, dan penuh kepercayaan dalam setiap keadaan.
Sebab semakin kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, semakin kita menemukan bahwa kekuatan terbesar bukanlah ketika kita mampu mengendalikan segala sesuatu, tetapi ketika kita mampu berkata dengan penuh iman:
“Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Bentuklah hatiku, tuntunlah langkahku, dan jadilah kehendak-Mu dalam hidupku.”
Doa: Tuhan Yesus, ciptakanlah hati yang murni dan baru dalam diriku. Ampunilah segala kesalahan dan kelemahanku, dan ajarlah aku untuk selalu kembali kepada-Mu. Berilah aku hati seperti seorang anak: sederhana, tulus, rendah hati, dan penuh kepercayaan kepada-Mu. Ketika aku tidak memahami jalan hidupku, teguhkanlah imanku. Ketika aku berhasil, jagalah aku tetap rendah hati. Ketika aku jatuh, berilah aku keberanian untuk bertobat dan bangkit kembali. Aku menyerahkan keluarga, pekerjaan, pelayanan, impian, dan seluruh masa depanku ke dalam tangan-Mu. Tuntunlah setiap langkahku agar hidupku semakin berkenan kepada-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.
Pontianak 15 Agustus 2026
Dr. Manuntun Sitinjak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar