Sabtu, 29 Agustus 2026

BERANI BERDIRI DI PIHAK KEBENARAN

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: BERANI BERDIRI DI PIHAK KEBENARAN

Sabtu, 29 Agustus 2026
PW Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis

Bacaan: Yeremia 1:17–19 • Mazmur 71:1–2, 3–4a, 5–6ab, 15ab, 17 • Markus 6:17–29

Firman Tuhan hari ini berbicara sangat kuat tentang keberanian, kebenaran, dan kesetiaan. Menjadi orang beriman bukan berarti hidup kita selalu mudah dan tanpa tantangan. Ada saatnya iman justru menuntut kita untuk berdiri teguh, mengatakan yang benar, dan mempertahankan prinsip sekalipun ada risiko yang harus kita hadapi.

Dalam bacaan pertama, Tuhan memanggil Nabi Yeremia untuk menjalankan tugas yang tidak mudah. Ia harus menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang belum tentu mau mendengarkannya. Tuhan berkata kepadanya, “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap! Bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu.”

Yeremia tidak dijanjikan bahwa semua orang akan menerima perkataannya. Sebaliknya, Tuhan mengatakan bahwa ia akan menghadapi perlawanan. Namun Tuhan memberikan satu jaminan yang menjadi sumber kekuatannya: “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau.”

Inilah kekuatan seorang yang hidup dalam Tuhan. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan yang benar meskipun kita mengetahui ada risiko yang harus dihadapi. Kita berani bukan karena merasa diri kuat, tetapi karena percaya bahwa Tuhan menyertai kita.

Pesan ini menjadi nyata dalam kehidupan Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini.

Yohanes mengetahui bahwa Herodes melakukan sesuatu yang tidak benar dengan mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya sendiri. Yohanes dapat saja memilih diam. Ia dapat mencari keamanan bagi dirinya sendiri. Namun ia memilih mengatakan kebenaran kepada Herodes: “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu!”

Perkataan itu akhirnya membawa Yohanes ke dalam penjara dan kemudian kepada kematian. Tetapi Yohanes tidak mengubah kebenaran hanya demi menyelamatkan dirinya.

Di sinilah kita melihat integritas seorang hamba Tuhan.

Kebenaran tetaplah kebenaran sekalipun tidak disukai. Kesalahan tetaplah kesalahan sekalipun dilakukan oleh orang yang berkuasa.

Sebaliknya, Herodes menggambarkan seseorang yang sebenarnya mengetahui kebenaran tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengikutinya. Ia mengetahui bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci. Ia bahkan senang mendengarkan Yohanes. Tetapi ketika harus mengambil keputusan, Herodes lebih takut kehilangan muka di hadapan para tamunya daripada melakukan apa yang benar.

Dari Herodes kita belajar bahwa mengetahui kebenaran saja tidak cukup. Kebenaran harus diwujudkan dalam keputusan dan tindakan.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita tidak menghadapi seorang raja seperti Yohanes Pembaptis, tetapi kita terus diperhadapkan pada berbagai pilihan: jujur atau berbohong, mempertahankan integritas atau mengambil jalan pintas, mengatakan yang benar atau diam demi kenyamanan, mengikuti kehendak Tuhan atau sekadar mengikuti apa yang dilakukan banyak orang.

Terkadang melakukan yang benar memang mempunyai harga.

Kejujuran mungkin membuat kita kehilangan keuntungan. Memegang prinsip mungkin membuat kita tidak disukai. Menolak sesuatu yang salah mungkin membuat kita kehilangan kesempatan. Tetapi keuntungan yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran dan integritas tidak akan pernah memberikan kedamaian sejati.

Karena itu kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya tetap berani melakukan yang benar ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah saya tetap jujur ketika ketidakjujuran memberikan keuntungan? Apakah saya tetap memegang prinsip ketika lingkungan mengajak saya berkompromi?

Namun berdiri di pihak kebenaran bukan berarti kita boleh menjadi kasar, merasa paling benar, atau mudah menghakimi orang lain. Kebenaran harus berjalan bersama kasih. Kita dipanggil untuk tegas dalam prinsip, tetapi tetap rendah hati dalam sikap; berani mengatakan kebenaran, tetapi tetap melakukannya dengan kasih dan kebijaksanaan.

Dalam keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat, kita membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya: orang yang perkataannya dapat dipegang, yang tetap jujur sekalipun ada kesempatan untuk menyimpang, dan yang tidak mengubah prinsip hanya karena situasi berubah.

Itulah integritas.

Hari ini Tuhan berkata kepada kita seperti kepada Yeremia: bangkitlah, jangan takut, dan lakukanlah apa yang benar. Kita mungkin menghadapi tantangan, penolakan, atau ketidaknyamanan. Tetapi kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai orang yang berjalan dalam kebenaran.

Yohanes Pembaptis kehilangan hidupnya di dunia, tetapi ia tidak kehilangan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan hidup yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan kita, seberapa banyak yang kita miliki, atau seberapa besar penghargaan manusia kepada kita. Keberhasilan sejati adalah ketika sampai akhir kita tetap setia kepada Tuhan, menjaga kebenaran, dan mempertahankan integritas.

Maka hari ini mari kita membuat satu keputusan: apa pun situasinya, tetaplah memilih yang benar. Ketika harus memilih antara keuntungan dan integritas, pilihlah integritas. Ketika harus memilih antara popularitas dan kebenaran, pilihlah kebenaran. Ketika harus memilih antara mengikuti arus atau mengikuti kehendak Tuhan, pilihlah Tuhan.

Sebab Tuhan telah berjanji: “Aku menyertai engkau.”

Doa: Tuhan Yesus, berilah aku keberanian untuk selalu berdiri di pihak kebenaran. Ajarlah aku untuk tetap jujur ketika ada kesempatan untuk menyimpang, tetap memegang prinsip ketika menghadapi tekanan, dan tetap setia kepada-Mu ketika jalan yang benar terasa sulit. Jauhkanlah aku dari keinginan mencari keuntungan dengan mengorbankan kebenaran dan integritas. Berilah aku kebijaksanaan agar mampu menyampaikan kebenaran dengan kasih, ketegasan dengan kerendahan hati, dan keberanian tanpa menghakimi orang lain. Ketika aku takut menghadapi konsekuensi karena melakukan yang benar, ingatkanlah aku akan janji-Mu: Engkau menyertaiku. Semoga melalui perkataan, keputusan, pekerjaan, dan seluruh hidupku, nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Tidak ada komentar: