Rabu, 04 November 2026

FOLLOWING CHRIST WITH ALL OUR HEART

TODAY'S REFLECTION ON THE WORD OF GOD: FOLLOWING CHRIST WITH ALL OUR HEART

Wednesday, November 4, 2026
31st Week in Ordinary Time – Memorial of Saint Charles Borromeo, Bishop

Readings: Philippians 2:12–18 • Psalm 27:1, 4, 13–14 • Luke 14:25–33

Today's Word of God invites us to reflect on an important question: Does God truly hold the highest place in our lives? Or do we seek Him only when we face difficulties and need His help?

In the Gospel, Jesus declares that whoever wishes to become His disciple must be willing to carry the cross, renounce everything, and follow Him. He even uses strong language concerning our relationships with family members.

Certainly, Jesus does not teach us to hate our families. Rather, He emphasizes that our love and faithfulness to God must come before everything else.

We are still called to love our families, work diligently, build our businesses, and fulfill our responsibilities. However, everything we do must be guided by God's will.

Jesus also shares two parables: a person planning to build a tower and a king preparing for battle. Both must carefully consider the costs and consequences before making their decisions.

Through these parables, Jesus reminds us that discipleship requires commitment, sacrifice, and perseverance. Faith is not merely temporary enthusiasm, but a lifelong decision to walk with God in every circumstance.

When life goes smoothly, it is easy to be grateful and trust God. But what happens when our business struggles, our plans fail, our prayers seem unanswered, or our sacrifices go unappreciated?

It is precisely during such moments that our faithfulness is tested. Carrying our cross means continuing to do what is right and remaining faithful to God's will, even when the journey becomes difficult.

In the first reading, the Apostle Paul reminds us that God Himself is at work within us, inspiring both our desires and our actions. Therefore, we are encouraged to do everything without complaining or arguing, so that we may shine like stars in the world.

This message is deeply relevant to our daily lives. It is not enough to pray for God's blessings; we must also work diligently, honestly, and responsibly. It is not enough to pray for a harmonious family; we must practice love, patience, and forgiveness.

True faith must be reflected in our daily decisions and actions.

The example of Saint Charles Borromeo, who faithfully served God's people and worked tirelessly to renew the Church, reminds us that following Christ requires genuine dedication.

Today, let us ask ourselves: Do I remain honest when tempted? Humble when successful? Grateful when facing failure? Faithful when the road becomes difficult?

For the greatest success in life is not merely achieving what we desire, but allowing God's will to become increasingly visible through our journey, so that His name may be glorified.

Prayer: Lord Jesus, thank You for Your Word today. Teach me to place You at the center of my life. Strengthen my faith, give me a humble heart, and grant me the courage to carry my cross faithfully. Guide my family, work, business, ministry, and every responsibility entrusted to me. Keep me away from despair, pride, and complaining. May my thoughts, words, decisions, and actions reflect Your love, become a blessing to others, and bring glory to Your holy name. Amen.

Dr. Manuntun Sitinjak
Bogor, November 4, 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: MENGIKUTI KRISTUS DENGAN SEGENAP HATI Rabu, 4 November 2026 Pekan Biasa XXXI – Peringatan Santo Karolus Borromeus, Uskup Bacaan: Filipi 2:12–18 • Mazmur 27:1, 4, 13–14 • Lukas 14:25–33 Firman Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan penting: Apakah Tuhan sungguh menjadi yang utama dalam kehidupan kita? Ataukah kita hanya mencari-Nya ketika menghadapi kesulitan dan membutuhkan pertolongan? Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang ingin menjadi murid-Nya harus bersedia memikul salib, meninggalkan segala sesuatu, dan mengikuti-Nya. Bahkan Yesus menggunakan ungkapan yang sangat tegas mengenai hubungan dengan keluarga. Tentu Yesus tidak mengajarkan kita membenci keluarga. Sebaliknya, Ia menegaskan bahwa kasih dan kesetiaan kepada Allah harus menempati tempat tertinggi dalam kehidupan kita. Kita tetap harus mengasihi keluarga, bekerja, membangun usaha, dan menjalankan tanggung jawab. Namun, semua itu harus dilakukan dalam terang kehendak Tuhan. Yesus juga memberikan perumpamaan tentang seseorang yang hendak membangun menara dan seorang raja yang hendak berperang. Keduanya harus terlebih dahulu memperhitungkan kemampuan dan konsekuensi dari keputusan mereka. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengingatkan bahwa menjadi murid-Nya membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan kesetiaan. Iman bukan sekadar semangat sesaat, melainkan keputusan untuk terus berjalan bersama Tuhan dalam segala keadaan. Ketika kehidupan berjalan lancar, mudah bagi kita untuk bersyukur dan percaya. Namun, bagaimana ketika usaha menghadapi kesulitan, rencana tidak terlaksana, doa belum terjawab, atau pengorbanan kita tidak dihargai? Justru dalam keadaan seperti itulah kesetiaan kita diuji. Memikul salib berarti tetap melakukan yang benar dan berpegang pada kehendak Tuhan, sekalipun menghadapi tantangan dan pengorbanan. Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa Allah sendiri bekerja dalam diri kita, baik dalam kemauan maupun dalam pelaksanaan. Karena itu, kita diajak melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut, sehingga kehidupan kita bercahaya seperti bintang-bintang di dunia. Pesan ini sangat relevan. Kita tidak cukup hanya berdoa memohon berkat, tetapi juga harus bekerja dengan tekun, jujur, dan bertanggung jawab. Kita tidak cukup hanya meminta keluarga yang harmonis, tetapi harus menghadirkan kasih, kesabaran, dan pengampunan. Iman yang sejati harus terlihat dalam keputusan dan tindakan sehari-hari. Teladan Santo Karolus Borromeus, yang setia melayani umat dan memperbarui kehidupan Gereja, semakin menegaskan bahwa mengikuti Kristus membutuhkan pengabdian nyata. Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku tetap jujur ketika menghadapi godaan? Tetap rendah hati ketika berhasil? Tetap bersyukur ketika mengalami kegagalan? Tetap setia ketika jalan terasa berat? Sebab keberhasilan terbesar dalam kehidupan bukan hanya ketika kita mencapai apa yang kita inginkan, tetapi ketika melalui seluruh perjalanan hidup kita, kehendak Tuhan semakin nyata dan nama-Nya semakin dimuliakan. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah aku menempatkan Engkau sebagai pusat kehidupanku. Berilah aku iman yang teguh, hati yang rendah hati, dan keberanian untuk memikul salib kehidupanku dengan setia. Bimbinglah keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, dan setiap tanggung jawabku. Jauhkanlah aku dari keputusasaan, kesombongan, dan sikap mengeluh. Semoga setiap pikiran, perkataan, keputusan, dan tindakanku mencerminkan kasih-Mu, menjadi berkat bagi sesama, dan memuliakan nama-Mu. Amin. Dr. Manuntun Sitinjak Bogor, 4 November 2026

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: MENGIKUTI KRISTUS DENGAN SEGENAP HATI

Rabu, 4 November 2026
Pekan Biasa XXXI – Peringatan Santo Karolus Borromeus, Uskup

Bacaan: Filipi 2:12–18 • Mazmur 27:1, 4, 13–14 • Lukas 14:25–33

Firman Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan penting: Apakah Tuhan sungguh menjadi yang utama dalam kehidupan kita? Ataukah kita hanya mencari-Nya ketika menghadapi kesulitan dan membutuhkan pertolongan?

Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang ingin menjadi murid-Nya harus bersedia memikul salib, meninggalkan segala sesuatu, dan mengikuti-Nya. Bahkan Yesus menggunakan ungkapan yang sangat tegas mengenai hubungan dengan keluarga.

Tentu Yesus tidak mengajarkan kita membenci keluarga. Sebaliknya, Ia menegaskan bahwa kasih dan kesetiaan kepada Allah harus menempati tempat tertinggi dalam kehidupan kita.

Kita tetap harus mengasihi keluarga, bekerja, membangun usaha, dan menjalankan tanggung jawab. Namun, semua itu harus dilakukan dalam terang kehendak Tuhan.

Yesus juga memberikan perumpamaan tentang seseorang yang hendak membangun menara dan seorang raja yang hendak berperang. Keduanya harus terlebih dahulu memperhitungkan kemampuan dan konsekuensi dari keputusan mereka.

Melalui perumpamaan ini, Yesus mengingatkan bahwa menjadi murid-Nya membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan kesetiaan. Iman bukan sekadar semangat sesaat, melainkan keputusan untuk terus berjalan bersama Tuhan dalam segala keadaan.

Ketika kehidupan berjalan lancar, mudah bagi kita untuk bersyukur dan percaya. Namun, bagaimana ketika usaha menghadapi kesulitan, rencana tidak terlaksana, doa belum terjawab, atau pengorbanan kita tidak dihargai?

Justru dalam keadaan seperti itulah kesetiaan kita diuji. Memikul salib berarti tetap melakukan yang benar dan berpegang pada kehendak Tuhan, sekalipun menghadapi tantangan dan pengorbanan.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa Allah sendiri bekerja dalam diri kita, baik dalam kemauan maupun dalam pelaksanaan. Karena itu, kita diajak melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut, sehingga kehidupan kita bercahaya seperti bintang-bintang di dunia.

Pesan ini sangat relevan. Kita tidak cukup hanya berdoa memohon berkat, tetapi juga harus bekerja dengan tekun, jujur, dan bertanggung jawab. Kita tidak cukup hanya meminta keluarga yang harmonis, tetapi harus menghadirkan kasih, kesabaran, dan pengampunan.

Iman yang sejati harus terlihat dalam keputusan dan tindakan sehari-hari.

Teladan Santo Karolus Borromeus, yang setia melayani umat dan memperbarui kehidupan Gereja, semakin menegaskan bahwa mengikuti Kristus membutuhkan pengabdian nyata.

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku tetap jujur ketika menghadapi godaan? Tetap rendah hati ketika berhasil? Tetap bersyukur ketika mengalami kegagalan? Tetap setia ketika jalan terasa berat?

Sebab keberhasilan terbesar dalam kehidupan bukan hanya ketika kita mencapai apa yang kita inginkan, tetapi ketika melalui seluruh perjalanan hidup kita, kehendak Tuhan semakin nyata dan nama-Nya semakin dimuliakan.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah aku menempatkan Engkau sebagai pusat kehidupanku. Berilah aku iman yang teguh, hati yang rendah hati, dan keberanian untuk memikul salib kehidupanku dengan setia. Bimbinglah keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, dan setiap tanggung jawabku. Jauhkanlah aku dari keputusasaan, kesombongan, dan sikap mengeluh. Semoga setiap pikiran, perkataan, keputusan, dan tindakanku mencerminkan kasih-Mu, menjadi berkat bagi sesama, dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak
Bogor, 4 November 2026