Rabu, 09 September 2026

KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM TUHAN

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM TUHAN

Rabu, 9 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII

Bacaan: 1 Korintus 7:25–31 • Mazmur 45:11–12, 14–15, 16–17 • Lukas 6:20–26

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kembali sumber kebahagiaan sejati dalam hidup.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa dunia dalam bentuknya sekarang sedang berlalu. Segala yang kita miliki, nikmati, perjuangkan, bahkan hal-hal yang sangat kita banggakan, semuanya bersifat sementara. Karena itu, kita boleh bekerja keras, membangun kehidupan, mengejar impian, dan menikmati berkat Tuhan, tetapi jangan sampai hati kita melekat sepenuhnya pada hal-hal duniawi.

Dalam Injil, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia: “Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Yesus juga berbicara tentang mereka yang lapar, menangis, dan ditolak karena Anak Manusia.

Ini bukan berarti kemiskinan atau penderitaan itu sendiri adalah sesuatu yang harus dicari. Pesannya adalah bahwa orang yang sadar akan keterbatasannya dan sungguh bergantung kepada Tuhan justru membuka hatinya bagi Kerajaan Allah.

Sebaliknya, ketika kita merasa cukup karena kekayaan, kenyamanan, keberhasilan, atau pujian, kita bisa perlahan merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini adalah: di manakah saya meletakkan rasa aman dan kebahagiaan saya?

Apakah pada uang, posisi, keberhasilan, penilaian orang lain, atau pada Tuhan?

Segala sesuatu di dunia dapat berubah. Tetapi Tuhan tetap sama.

Maka kebahagiaan sejati bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika di tengah apa pun yang terjadi, kita tetap memiliki Tuhan di dalam hati.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk tidak menggantungkan kebahagiaanku pada hal-hal yang sementara. Berikan aku hati yang selalu bergantung kepada-Mu, bersyukur dalam kelimpahan, tetap percaya dalam kekurangan, dan setia dalam setiap keadaan. Jadilah Engkau sumber sukacita dan kekuatanku. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Selasa, 08 September 2026

BECOMING PART OF GOD’S PLAN

TODAY’S REFLECTION ON THE WORD OF GOD: BECOMING PART OF GOD’S PLAN

Tuesday, September 8, 2026
Feast of the Nativity of the Blessed Virgin Mary

Readings: Micah 5:1–4a • Psalm 13:6ab, 6c • Matthew 1:1–16, 18–23

Today the Church celebrates the Nativity of the Blessed Virgin Mary. Through Mary, we see how God works through human history and fulfills His plan of salvation.

In the first reading, the Prophet Micah foretells that from Bethlehem will come a ruler who will shepherd His people and bring peace. This prophecy is fulfilled in Jesus Christ.

The Gospel presents the genealogy of Jesus and the story of Mary conceiving by the Holy Spirit. The genealogy reminds us that God’s plan unfolds through many generations, through imperfect people, and through a long journey that is not always easy to understand.

Mary became a very important part of that plan. She did not know every detail of the path ahead, but she surrendered herself to the will of God.

Here we learn that God does not always ask us to understand His entire plan; He asks us to trust Him and faithfully do our part.

Sometimes we wonder why certain things happen, why our plans change, or why life does not unfold as we expected. But God sees much farther than we can see.

Today, let us learn from Mary: to trust, to remain humble, and to be ready to be used by God.

Our part may seem small, but when it is lived in obedience, God can make it part of something far greater.

Prayer: Lord, thank You for the example of the Blessed Virgin Mary. Teach me to trust Your plan, to be faithful in every responsibility, and to courageously say yes to Your will. Use my life as part of Your work and make me a blessing to others. Amen.

Dr. Manuntun Sitinjak

MENJADI BAGIAN DARI RENCANA TUHAN

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: MENJADI BAGIAN DARI RENCANA TUHAN

Selasa, 8 September 2026
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Bacaan: Mikha 5:1–4a • Mazmur 13:6ab, 6c • Matius 1:1–16, 18–23

Hari ini Gereja merayakan Kelahiran Santa Perawan Maria. Melalui Maria, kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam sejarah manusia dan menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Dalam bacaan pertama, Nabi Mikha menubuatkan bahwa dari Betlehem akan lahir seorang pemimpin yang akan menggembalakan umat-Nya dan membawa damai. Nubuat ini digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Injil menampilkan silsilah Yesus dan kemudian kisah bagaimana Maria mengandung dari Roh Kudus. Silsilah itu mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan berjalan melalui banyak generasi, melalui orang-orang yang tidak sempurna, melalui perjalanan panjang yang kadang sulit dipahami.

Maria mengambil bagian sangat penting dalam rencana itu. Ia tidak mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya, tetapi ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan.

Di sinilah kita belajar bahwa Tuhan tidak selalu meminta kita memahami seluruh rencana-Nya; Tuhan meminta kita percaya dan setia menjalani bagian kita.

Kadang kita bertanya mengapa sesuatu terjadi, mengapa jalan hidup berubah, atau mengapa rencana kita tidak berjalan seperti yang diharapkan. Namun Tuhan melihat jauh lebih luas daripada yang dapat kita lihat.

Hari ini mari belajar dari Maria: percaya, rendah hati, dan siap dipakai Tuhan.

Mungkin bagian kita tampak kecil, tetapi ketika dilakukan dalam ketaatan, Tuhan dapat menjadikannya bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Doa: Tuhan, terima kasih atas teladan Bunda Maria. Ajarlah aku untuk percaya kepada rencana-Mu, setia dalam setiap tugas, dan berani berkata ya kepada kehendak-Mu. Pakailah hidupku menjadi bagian dari karya-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak


BERANI MELAKUKAN YANG BAIK

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: BERANI MELAKUKAN YANG BAIK

Senin, 7 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII

Bacaan: 1 Korintus 5:1–8 • Mazmur 5:5–6, 7, 12 • Lukas 6:6–11

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengalami pembaruan hidup dan berani melakukan yang baik.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan jemaat untuk membuang “ragi yang lama” agar menjadi adonan yang baru. Ragi lama dapat berupa dosa, kesombongan, kepahitan, iri hati, kebiasaan buruk, atau cara berpikir yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak mungkin sungguh hidup baru jika masih terus mempertahankan kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari-Nya.

Dalam Injil, Yesus menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Yesus berkata, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu menaati perintah Yesus, dan tangannya pun sembuh.

Pesannya sangat sederhana tetapi kuat: iman bukan hanya percaya bahwa Tuhan mampu, tetapi berani menaati kehendak-Nya.

Sering kali Tuhan juga meminta kita untuk “mengulurkan tangan”: mengampuni, memulai kembali, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki hubungan, membantu orang lain, atau mengambil keputusan yang benar.

Para ahli Taurat dan orang Farisi justru sibuk mempersoalkan aturan, tetapi kehilangan belas kasih. Yesus mengingatkan bahwa hidup beriman bukan hanya soal menjalankan aturan, melainkan menghadirkan kasih dan kebaikan.

Hari ini mari bertanya pada diri sendiri: ragi lama apa yang harus saya buang, dan kebaikan apa yang harus saya lakukan?

Jangan menunggu kesempatan besar. Mulailah dari hal sederhana: berkata lebih lembut, mengampuni, menolong, berlaku jujur, memberi perhatian, dan menjadi berkat bagi orang lain.

Doa: Tuhan Yesus, bersihkanlah hatiku dari segala ragi lama yang menjauhkan aku dari-Mu. Berikan aku iman untuk menaati kehendak-Mu dan keberanian untuk selalu melakukan yang baik. Pakailah hidupku menjadi saluran kasih dan berkat bagi sesama. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

ALLAH YANG MEMBERI PERTUMBUHAN

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: ALLAH YANG MEMBERI PERTUMBUHAN

Rabu, 2 September 2026
Hari Biasa Pekan XXII

Bacaan: 1 Korintus 3:1–9 • Mazmur 33:12–13, 14–15, 20–21 • Lukas 4:38–44

Rasul Paulus berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Firman ini mengingatkan bahwa kita mempunyai bagian untuk dikerjakan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam tangan Tuhan.

Tugas kita adalah menanam dan menyiram: bekerja sungguh-sungguh, berdoa, belajar, melayani, dan tetap tekun. Jangan iri melihat keberhasilan orang lain atau kecewa ketika hasil belum terlihat. Kita semua adalah kawan sekerja Allah dengan tugas masing-masing.

Dalam Injil, Yesus tetap fokus pada perutusan-Nya. Walaupun banyak orang mencari dan ingin menahan-Nya, Ia tetap pergi memberitakan Kerajaan Allah ke tempat lain.

Hari ini kita diajak untuk tetap fokus, setia melakukan bagian kita, dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Teruslah menanam dan menyiram dengan iman. Pada waktunya, Tuhanlah yang memberi pertumbuhan.

Doa: Tuhan Yesus, berilah aku ketekunan untuk setia melakukan bagianku dan iman untuk menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Tuntun aku agar tetap fokus pada kehendak dan panggilan-Mu. Aku percaya, Engkaulah yang memberi pertumbuhan. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH

RENUNGAN FIRMAN TUHAN HARI INI: HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH

Selasa, 1 September 2026
Hari Biasa Pekan XXII

Bacaan: 1 Korintus 2:10b–16 • Mazmur 145:8–9, 10–11, 12–13ab, 13cd–14 • Lukas 4:31–37

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat satu hal yang sangat penting dalam kehidupan iman: siapa yang memimpin pikiran, keputusan, dan tindakan kita? Apakah kita hanya mengikuti cara berpikir dunia, keinginan diri sendiri, kekhawatiran, dan kepentingan sesaat, ataukah kita sungguh memberi ruang kepada Roh Allah untuk membimbing hidup kita?

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengatakan bahwa Roh Allah menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi Roh yang berasal dari Allah, supaya kita dapat memahami apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bahkan Paulus menutup pengajarannya dengan pernyataan yang sangat kuat: “Kami memiliki pikiran Kristus.”

Memiliki pikiran Kristus berarti belajar melihat kehidupan seperti Kristus melihatnya. Ketika dunia mengajarkan untuk membalas, Kristus mengajarkan mengampuni. Ketika dunia mendorong kita mengejar kepentingan diri sendiri, Kristus mengajarkan melayani. Ketika dunia menilai seseorang dari kekayaan, jabatan, dan keberhasilannya, Kristus melihat hati, kasih, kesetiaan, dan ketulusan.

Karena itu, hidup dalam Roh bukan hanya berbicara tentang pengalaman rohani atau banyaknya doa yang kita ucapkan. Hidup dalam Roh harus terlihat dalam cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan menjalankan tanggung jawab setiap hari.

Sebelum mengambil keputusan penting, apakah kita bertanya, “Tuhan, apakah ini sesuai dengan kehendak-Mu?” Ketika menghadapi masalah, apakah kita langsung dikuasai ketakutan dan emosi, atau memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memberikan kebijaksanaan? Ketika berhasil, apakah kita menjadi sombong atau semakin bersyukur dan rendah hati?

Injil hari ini memperlihatkan Yesus mengajar di Kapernaum. Orang-orang takjub karena perkataan-Nya penuh kuasa. Ketika ada seorang yang dikuasai roh jahat, Yesus memerintahkannya keluar. Roh itu pun keluar dan tidak mencelakakan orang tersebut. Orang banyak menjadi takjub melihat bahwa perkataan Yesus mempunyai wibawa dan kuasa.

Ada hal menarik dalam Injil ini. Roh jahat itu mengenal siapa Yesus. Ia bahkan berkata bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Artinya, mengenal siapa Yesus saja ternyata belum cukup.

Kita pun dapat mengetahui banyak hal tentang Tuhan, membaca Kitab Suci, mengikuti Misa, mendengarkan khotbah, bahkan mampu berbicara panjang tentang iman. Tetapi pertanyaan terpenting adalah: apakah kita sungguh membiarkan Tuhan menguasai dan mengubah hidup kita?

Iman bukan hanya soal mengenal Tuhan, tetapi hidup bersama Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.

Sabda Yesus mempunyai kuasa untuk membebaskan. Karena itu, apa pun yang sedang mengikat kehidupan kita—ketakutan, kemarahan, kepahitan, kecemasan, kebiasaan buruk, kesombongan, keputusasaan, atau dosa—janganlah kita menyerah. Bawalah semuanya kepada Tuhan.

Biarkan Sabda-Nya masuk lebih dalam ke dalam hati kita.

Kadang-kadang kita terlalu banyak mendengarkan suara dunia: suara yang mengatakan bahwa kita tidak mampu, bahwa masa depan kita suram, bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya, atau bahwa kebahagiaan hanya ditemukan dalam keberhasilan dan materi.

Hari ini kita diajak untuk lebih mendengarkan suara Tuhan.

Ketika Tuhan berkata, “Jangan takut,” percayalah. Ketika Tuhan meminta kita mengampuni, lakukanlah. Ketika Tuhan menunjukkan jalan yang benar, berjalanlah di dalamnya. Ketika Tuhan meminta kita bangkit setelah kegagalan, bangkitlah kembali.

Sabda Tuhan bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dipercaya dan dilakukan.

Memasuki bulan September ini, firman Tuhan menjadi ajakan yang sangat baik untuk sebuah awal yang baru. Mungkin bulan lalu ada rencana yang belum tercapai, keputusan yang kurang tepat, kesempatan yang terlewat, atau pergumulan yang belum selesai. Jangan terus hidup dalam penyesalan. Serahkan semuanya kepada Tuhan, ambil pelajarannya, lalu melangkahlah kembali bersama-Nya.

Mari memulai bulan ini dengan satu tekad: biarkan Roh Kudus memimpin pikiran kita, Sabda Tuhan mengarahkan keputusan kita, dan Kristus menjadi pusat kehidupan kita.

Kita tetap bekerja keras, merencanakan yang terbaik, mengejar impian, dan melakukan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Namun di atas semuanya itu, kita menyadari bahwa kita membutuhkan hikmat dan penyertaan Tuhan.

Sebab ketika hidup kita dipimpin oleh Roh Allah, kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki melalui hidupku?”

Dan ketika kehendak kita semakin selaras dengan kehendak-Nya, pikiran kita semakin menjadi pikiran Kristus, dan tindakan kita semakin mencerminkan kasih-Nya, di situlah hidup kita sungguh menjadi berkat bagi orang lain.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari yang baru dan bulan September yang Engkau anugerahkan kepadaku. Penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu dan tuntunlah pikiran, perkataan, keputusan, serta setiap langkah hidupku. Ajarlah aku untuk tidak hanya mengenal Engkau, tetapi sungguh hidup bersama-Mu dan melakukan kehendak-Mu. Bebaskanlah aku dari segala ketakutan, kekhawatiran, kepahitan, kesombongan, dan segala sesuatu yang menjauhkan aku dari-Mu. Berilah aku pikiran Kristus, hati yang penuh kasih, serta keberanian untuk melakukan yang benar. Aku menyerahkan keluarga, pekerjaan, pelayanan, usaha, rencana, dan seluruh perjalanan bulan ini ke dalam tangan-Mu. Pakailah hidupku menjadi berkat dan untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.

Dr. Manuntun Sitinjak

Sabtu, 29 Agustus 2026

DARE TO STAND FOR THE TRUTH

TODAY’S REFLECTION ON THE WORD OF GOD: DARE TO STAND FOR THE TRUTH

Saturday, 29 August 2026
Memorial of the Passion of Saint John the Baptist

Readings: Jeremiah 1:17–19 • Psalm 71:1–2, 3–4a, 5–6ab, 15ab, 17 • Mark 6:17–29

Today’s Word of God speaks powerfully about courage, truth, and faithfulness. Being a person of faith does not mean that life will always be easy and free from challenges. There are times when our faith calls us to stand firm, speak the truth, and hold on to our principles even when there is a price to pay.

In the first reading, God calls the Prophet Jeremiah to carry out a difficult mission. He must proclaim God’s Word to people who may not want to hear it. God tells him, “But do you gird your loins; stand up and tell them all that I command you.”

Jeremiah is not promised that everyone will accept his message. On the contrary, God tells him that he will face opposition. Yet God gives him one assurance that becomes the source of his strength: “They will fight against you, but not prevail over you, for I am with you.”

This is the strength of someone who lives in God. Courage does not mean the absence of fear. Courage means continuing to do what is right even when we know there may be consequences. We are courageous not because we consider ourselves strong, but because we trust that God is with us.

This message becomes very real in the life of John the Baptist in today’s Gospel.

John knew that Herod had done wrong by taking Herodias, the wife of his brother Philip. John could have chosen to remain silent. He could have protected himself and avoided trouble. Instead, he chose to speak the truth to Herod: “It is not lawful for you to have your brother’s wife.”

Those words eventually led John to prison and then to death. Yet John would not compromise the truth simply to save himself.

Here we see the integrity of a true servant of God.

Truth remains truth even when people do not like it. What is wrong does not become right simply because it is done by someone powerful.

Herod, on the other hand, represents someone who actually knows the truth but lacks the courage to follow it. He knew that John was a righteous and holy man. He even liked listening to him. Yet when the moment came to make a decision, Herod was more afraid of losing face before his guests than of doing what was right.

From Herod we learn that knowing the truth is not enough. Truth must be expressed through our decisions and actions.

The same is true in our daily lives. We may not face a king as John the Baptist did, but we continually face choices: to be honest or to lie, to maintain our integrity or take shortcuts, to speak the truth or remain silent for the sake of comfort, to follow God’s will or simply follow what everyone else is doing.

Sometimes doing what is right has a price.

Honesty may cause us to lose an advantage. Holding on to our principles may make us unpopular. Refusing to participate in something wrong may cause us to lose an opportunity. But any benefit gained by sacrificing truth and integrity will never bring genuine peace.

Therefore, we need to ask ourselves: Do I still choose what is right when no one is watching? Do I remain honest when dishonesty could benefit me? Do I hold on to my principles when people around me pressure me to compromise?

However, standing for the truth does not mean becoming harsh, self-righteous, or quick to judge others. Truth must always walk together with love. We are called to be firm in our principles but humble in our attitude; courageous in speaking the truth but always doing so with love and wisdom.

In our families, workplaces, businesses, ministries, and communities, we need people who can be trusted: people whose words can be relied upon, who remain honest even when they have an opportunity to compromise, and who do not change their principles simply because circumstances change.

That is integrity.

Today God speaks to us as He spoke to Jeremiah: Stand up, do not be afraid, and do what is right. We may encounter challenges, rejection, or discomfort. But we do not walk alone. God is with those who walk in truth.

John the Baptist lost his earthly life, but he did not lose his faithfulness to God. He teaches us that true success in life is not merely about how high we rise, how much we possess, or how much recognition we receive from others. True success is reaching the end of our journey while remaining faithful to God, holding firmly to the truth, and preserving our integrity.

So today, let us make one decision: whatever the situation, always choose what is right. When we must choose between personal gain and integrity, choose integrity. When we must choose between popularity and truth, choose truth. When we must choose between following the crowd and following God’s will, choose God.

For God has promised us: “I am with you.”

Prayer: Lord Jesus, give me the courage always to stand for the truth. Teach me to remain honest when I have an opportunity to compromise, to hold firmly to my principles when I face pressure, and to remain faithful to You when the right path becomes difficult. Keep me from seeking personal gain at the expense of truth and integrity. Give me wisdom to speak the truth with love, firmness with humility, and courage without judging others. When I am afraid of the consequences of doing what is right, remind me of Your promise: You are with me. May my words, decisions, work, and entire life bring ever greater glory to Your name. Amen.

Pontianak, 29 August 2026
Dr. Manuntun Sitinjak